Jumat, 17 November 2017

Nasihat untuk Cinta yang Durhaka

Nasihat untuk Cinta yang Durhaka


Pulanglah nak!
Tak akan ada yang kau dapatkan disana
Selain rasa benci dan cemburu yang merajalela
Tutuplah matamu dengan kain hitam
Agar tak ada setitik cahaya kepedihan yang merasuk dalam jiwamu yang sendiri

Lekaslah nak!
Buah tanganmu dan semua yang ada pada dirimu hanyalah paduan kesedihan yang bom waktu
Kau kan hancurkan diri sendiri ketika kau nekat mendekat
Kau akan porak poranda menjadi puing-puing ketidakadilan kasihmu.

Jangan melamun terlalu lama nak!
Pegang dadamu dan rasakan getaranmu yang tak kan kau dapat balasab balik
Ia hanya akan menjelma granat yang siap meledak
Ku sudah jelaskan kau kan jadi sampah bahkan hanya puing-puing sia-sia

Menolehlah nak! Menolehlah ketika ada yang mengajakmu bicara!
Disini, aku sebagai orangtuamu sedang menasihatimu
Demi kebaikan mu dan juga aku sendiri
Sebab, cinta sejengkal saja kau melangkah
Hujan kan datang di pipimu dan pipiku denhan lebat
Petir akan buat gila kita dalam ketakutan.


Dengarkan lah nak! Kumohon!
Turunkan kakimu atau kau dan aku akan jatuh kejurang nestapa abadi
Cobalah fikirkan aku, kalau alasan dirimu saja tak cukup
Kemarilah nak! Dekap aku saja!
Tak perlu kau berangan mendekap ia yang tampak bahagia bersama cinta yang lain; bukan kau.
Marilah bersulang, buat pesta sunyi tuk hibur hati ini.

Tidak nak! Jangan! Bunuh saja aku jika kau nekat melangkah!
Jangan kau kurang ajar padaku yang telah rasai asam garam kehidupan percintaan.

Baik ku takkan teriak sekarang.
Mendekatlah, kakiku terlalu ringkih tuk sekadar menyentuh harum rambutmu nan wangi
Aku menyayangimu lebih dari dirimu sendiri
Jadi takkan ku biarkan kau lantah di bawah bekukan kasih yang hanya sekadar mimpi; tak pernah repot-repot merentangkan tangan tuk memelukmu.

Tunggu nak! Jangan!
Durhaka! Enyahlah ke neraka!


Kamis, 16 November 2017

Sayang?

Sayang? Yang?


1.
Hari ini
Ada yang berbeda dari caraku menatap elok parasmu
Di sana dadaku berdesir, berdegup, dan ribut menahan gelora yang kian mengacung
Kau mencuri semua akal sehat dalam diriku
Hingga ku limbung dan angin keresahan semakin puas mendikte namamu dalam nafasku


2.
Ku harus apa sayang?

Telah ku tampik semua rasa cinta dengan kasar, namun ia tetap datang dengan sopan sambil membelai pipiku lembut
Penuh perhatian, pertimbangan dan perasaan
Tak pernah ku rasakan sedemikian
Dan ku merasa nyaman hingga hanyut dalam khayalan.


3.
Kau memang tak pernah menyentuhku, apalagi memelukku
Namun senyum itu mampu membuatku hangat, menyusup hatiku yang dingin tercelup lautan salju kutub utara.


4.
Kau tau sayang?
Sekelebet dusta tak pernah ku ucapkan lewat kata dan aksara
Ntahlah, mungkin sebuah hukum alam mewajibkanku tuk jujur dalam beretika mencipta kata
Agar rasa bisa lega, melenggang melewati batu-batu kebohongan yang panas dengan sempurna.


5.
Sayang?
Patutkah ku panggil nama itu untukmu,
Bahkan tuk sekadar meredam kecamuk dalam diri yang kian merangkul mimpi?
Sebab panggilan itu merupakan simbol keputusasaan rasa sayang yang harus hilang ditelan malam
Yang kini mem penuh rasa yang mulai mendahaga kau sahut balik.


6.
Namun ketidakmungkinan datang membawa angin segar
Ditangannya sepucuk surat yang berisi pasal-pasal yang tak membolehkanmu mengatakan sayang pada yang lain apa lagi padaku walau hanya sekadar guyonan,
Sebab disana ada mata wanita yang kau amat kupuja; bila tidak salah.



7.
Sayang kutuk lah aku tuk membencimu!
Buat aku tak sanggup mengucapkan itu padamu sebab rasah, gelisah dan takutku makin meluap dan menjadi hujan kesedihan.
Rintiknya batu-batu pemati harapan
Suaranya penegasan kau milik orang
Petirnya menggelegar membuka mataku agar bisa melihat dunia dengan sadar
Dan banjirnya menjangkit penyakit gigil dan demam rindu yang takkan tersampaikan.



8.
Oh tuanku sayang,
Terlalu banyak kata-kata absurd yang ku ucapkan hari ini
Namun bila saja kau menerawang dari lubuk hatiku yang dalam
Semua kata dalam puisi ini belum penuh; belum bisa mewakilkan perasaanku yang utuh
Getaran rindu dan cinta yang tak tuntas dan tak akan tuntas.
Menghakimiku tuk bungkam.


9.
Semoga tuk terakhir kali ku panggil kau sayang.

Sayang?
Bolehkah?
Maaf kalau ku lancang, bila kau tak mengizinkan, ku kan sebut terus kata itu dalam puisiku yang malang
Sebab darimulah kata-kata itu datang menyebab
Tak mau hilang bahkan semakin subur dalam tatap.



10.
Sayang? Yang?

Rabu, 01 November 2017

Pagi dan Malam

Pagi dan Malam


Pagi melintas dikepalaku
Berjejak alarm tuk dapat di pandu
Dia tersenyum dengan senyuman kaku
Ada yang tak beres dalam senyumnya, palsu.

Pagi menyambar bagai petir
Membawa ketakutan hingga seluruh tubuh getir
Jauh dalam sana hatiku berdesir
Memikirkan sallah ucapku padamu semalam membuatku khawatir.

Pagi datang dengan sepucuk surat
Digenggamannya ada ejekan dari malam yang biasanya hangat
Namun begitu anehnya selamam menjadi tipu muslihat
Dalam bekukan pagi, dalam suratnya ku mengumpat.

Entah pagi atau malam yang membenciku tanpa andeng-andeng
Ancer-acnerpun jauh dari dipan gendang
Sorot matanya menyatatku tanpa sempat disiapkan benteng
Dan kini kesalah fahamanterjadi membuatpengang

Duh. Ku ingin tenggelam saja di dasar bumi
Agar ttak kulihat senyum palsu pagi
Agar tak kuterkecoh muslihat malam tadi
Agar ku benahi hatiku yang kunjung bisa menyikapi.

Kepadamu: ku tak pernah bermaksud apapun
Bahkan rasa memikili tak pernah ku diami sekalipun
Ku tak mau  ikatan harus membayar secuilpun
Biarlah  seperti biasanya kita jumpa dengan tak pernah kenal satu kata sapaanpun

Maaf kalau kautersiksa
Maaf kata-kataku membuat hatimu binasa
Semalam hanya  disana, padamu, ada asa
Dan pagi ternyata sekongkol dengan malam menampilkan hal luar biasa.



Jakarta, 02 November 2017

Rabu, 11 Oktober 2017

Selalu Ada yang Membekas

Selalu Ada yang Membekas


pelbagai bekas selalu tertinggal selepas kau buka pintu.
kemarin rasa benci, lalu rasa simpati, lalu rasa suka, lalu rasa sayang, hingga rasa cinta.
Oh! hampir ku lupa! rasa sakit, iri dan cemburu pun mengatmosfer disana.

kau, dengan pergimu itu selalu membawa cenderamata baru.
kemarin rasa benci, lalu rasa simpati, lalu rasa suka, lalu rasa sayang, hingga rasa cinta.
Oh! hampir ku lupa! rasa sakit, iri dan cemburu pun turut pula berpesta.

lalu kau pergi lagi dengan secarik kertas penangkal rindu.
kemarin rasa benci, lalu rasa simpati, lalu rasa suka, lalu rasa sayang, hingga rasa cinta.
Oh! hampir ku lupa! rasa sakit, iri dan cemburu pun turut pula berpesta.



Jakarta, 11 Oktober 2017


****************
Asli ini absurd! duuh. Ku bingung harus bagaimana. baca saja puisi di atas. Semuanya terlihat: Malas mikir, ndak jelas, ndak nyambung, ndak ada artinya, hanya sebuah pelampiasan asal nulis dan absurd.

Sabtu, 23 September 2017

Si Kecap

Si Kecap.


Mataku tak bisa berhenti mengerjap,
Ketika seekor kupu-kupu menarikan tarian harap,
Tak lama berselang, ntah mengapa kakiku mulai tak lagi mantap mendengar derap,
Jantungku mulai abnormal berdetak hampir menembus kedap.

Lazuardi berkunjung keruang tamuku nan pengap,
Dari tangannya, ia sodorkan makanan berlumuran kecap,
Air liurku hampir saja disudut bibirku hinggap,
Bila saja wanitanya tak masuk menyelinap,
Berada dibelakangnya bagai sayap,
Membuat rumahku penuh hujan, petir dan gelap,
Lalu buru-buru ku cairkan senyap,
Ku katakan: ada yang salah dengan lidahku dalam mencecap,
Jadi, aku harus pergi menemui dokter sebelum gelap.

Jakarta, September 2017

Kamis, 24 Agustus 2017

Renungan

Renungan

“Kuliah dimana? Sudah semester berapa?”
“Kuliah di ... (Univ. Swasta di Jakarta). Semester 5”
“Persemesternya berapa?”
“8juta.”
“Wah mahal banget ya, belajar apa aja di kampus?”
“Ngggg.. (Tidak bisa menjawab)”
            Pernahkah kalian mengalami hal serupa? Kalau ya, apa yang kamu rasakan? Malu kah? Kalau malu, selanjutnya apa?
            Mari kita renungkan, dengan mengambil kasus diatas. Ia sudah berada di semester 5, berarti ia telah mengeluarkan uang sejumlah Rp. 8.000.000 x 5 = Rp. 40.000.000. Wow! Angka yang cukup fantastis bukan? Sebegitu banyaknya uang yang telah dikeluarkan tidak membuat ia menjadi manusia pintar lantaran kita malas belajar. Yang penting datang, duduk manis dikelas, mendengarkan penjelasan dosen tidak, bahkan parahnya lagi mengerjakan tugas dengan membayar orang.
Astaghfirullah.
            Sebagai mahasiswa seharusnya kita harus lebih rajin belajar karena ilmu yang kita dapat akan kita pakai dihari esok. Fikirkanlah berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai mu. Kalaupun kau seorang anak orang kaya, namun siapa yang berani menjamin kau akan terus kaya?
            Belajar itu tak ada batasan. Bahkan kita telah di perintahkan melalui salah satu hadis shahih mengenai menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah wajib dan bahkan ada perintah mengenai menuntuty ilmu dari buaian sampai keliang lahat. Dari contoh dua hadis shahih tersebut dapatlah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting. Bisa dikatakan bahwa lentera kehidupan adalah ilmu pengetahuan.
            Cobalah sekarang tanyakan pada diri kita apa yang kita mau. Jangan sampai lelahmu pergi ke kampus tidak membuahkan hasil apa-apa. karena sayang sekali kalau kau yang bisa kuliah dengan mudah masih suka menyia-nyiakan kesempatan. Padahal diluaran sana masih banyak orang-orang yang berangan-angan ingin kuliah namun tidak terlaksana karena keterbatasan.
            Marilah. Kita cukup kenang apa yang kita lakukan kemarin sebagai bahan renungan untuk kau lebih giat belajar lagi. manfaatkan  lah waktu yang kita miliki untuk mencari ilmu. Carilah passion-mu. Sungguh ketika kau sudah tau apa yang kau mau, kau akan lebih mudah dalam belajar.
            Tanyakanlah apa yang membuatmu malas belajar. Kalauhanya karena dosenmu jarang masuk atau tidak jelas dalam menerangkan cobalah cari materinya dari sumber-sumber lain, bisa dari internet, buku dan temanmu yang ada di kelas lain. Kau mahasiswa. Bukan saatnya lagi kau harus disuapi. Kau harus mulai belajar makan dengan tanganmu sendiri.
            Kalau alasanmu malas belajar karena kau merasa tak cocok dengan jurusan yang kau ambil, coba tanyakan pada dirimu sendiri. Apa yang kau mau? Apakah yang kau geluti benar passion-mu atau tidak? Kalau tidak, segeralah cari apa yang kau mau. Kalau kau bingung cobalah mula-mula kau tanya pada dirimu sendiri apa cita-citamu. Kalau cita-citamu banyak cobalah analisis apakah kau bisa melakukan itu, Contoh: Cita-citamu ingin menjadi guru, desainer dan pengusaha. Cobalah kau tengok dirimu sendiri. Kalau perlu tulis dikertas, pada cita-citamu menjadi seorang guru coba tengok apakah kau suka belajar dan mengajari orang dsb, pada cita-citamu sebagai desainer coba tengok apakah kau punya keahlian dalam menggambar atau memiliki selera desain yang bagus dsb dan pada cita-citamu menjadi pengusaha tanyakan apakah kau suka berjualan, memiliki ide kreatif dalam menciptakan produk dsb. Lalu selanjutnya kau bisa lihat sendiri dimana kemampuanmu sesungguhnya.

            Semoga dengan begitu kita tidak lagi malas dalam belajar, tak ada alasan untuk malas. Karena malas merupakan cikal bakal kebodohan. Dan semoga kita bisa terhindar dari sifat tidak terpuji tersebut. Yuk, perbaiki diri jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. 

Bercanda

Bercanda

            Bercanda adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menghibur, bercanda ini bisa dalam bentuk mengolok-olok, mengejek atau bertingkah lucu namun tidak serius yang bertujuan untuk menghibur hati. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam bercanda. Bercanda juga sangat diperlukan oleh tubuh untuk mengurangi stress. Biasanya orang yang suka bercanda lebih ceria dibanding orang yang serius.
            Meskipun sifatnya menghibur, namun acap kali sering penulis jumpai di kehidupan nyata bahwa beberapa bahan guyonan tidak lagi memberikan sifat menghibur dan parahnya bagi yang tidak bisa mengontrol bahan bercandanya akan mengakibatkan orang yang dibercandai akan merasa sakit hati. Dan tentu fenomena ini melenceng dari definisi bercanda yang seharusnya menghibur untuk semuanya.
            Cara bercanda setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka bercanda dengan tangannya yang usil, ada yang bercanda dengan mengolok-olok kekurangan temannya, hingga ada yang bercanda dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dari perbedaan itulah biasanya ada faktor yang menyebabkan bahan candaan kita bisa menjadi tidak lucu sama sekali.
            Ternyata bercanda bisa untuk mengukur sejauhmana pengetahuan seseorang akan sesuatu. Contohnya ketika kita menjumpai orang-orang berpendidikan tentunya cara dan bahan bercanda mereka tidak sama dengan orang-orang tak berpendidikan. Orang yang berpendidikan biasanya bercanda sesuai ilmunya masing-masing, dari sanalah kita bisa melihat siapa ia sebenarnya.
            Ketika kita sedang bercanda dengan teman kita seharusnya kita melakukan hal-hal berikut: Pilihlah bahan yang menarik, gunakan bahan yang teman bercandamu tahu akan bercandaanmu itu sehingga bercandaanmu lucu, gunakan kata-kata yang tidak menyakiti temanmu, kalau dirasa raut muka salah satu temanmu kesal akan leluconmu hendaklah meminta maaf dan katakan bahwa kau hanya bercanda, dan pilihlah situasi yang tepat untuk bercanda.
            Jika mengikuti intrupsi diatas insyaAllah kita akan merasakan kenikamatan bercanda yang istimewa, yang tidak menyakiti hati orang lain, bisa menghilangkan beban fikiran kita dan dirinya, dan hidup akan semakin berwarna. Tapi ingat, jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

            Semoga bermanfaat, dan untuk kesekian kalinya penulis mengucapkan mohon maaf apabila dalam penulisan diatas terdapat kekurangan-kekurangan. Mari sama-sama belajar, karena kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk perbaikan kedepannya.

Make Up

Make Up

            Ketika kita berbicara mengenai make up kita pasti tidak bisa lepas dari perempuan. Make up atau merias diri memang merupakan bagian kebiasaan yang dilakukan perempuan agar semakin cantik dan sedap dipandang. Setiap perempuan memiliki seleranya masing-masing dalam memilih alat make up. Contoh sederhanya bisa kita lihat ketika kita menjumpai toko make up atau supermarket terdekat yang menjual alat-alat make up. Kita ambil salah satu contoh, coba perhatikan lipstik disana yang bertengger dengan warna berbeda-beda bahkan memiliki nomor-nomor warna yang sudah dihafal oleh perempuan. Dan perbedaan itu merupakan bukti nyata bahwa pemilihan alat make up setiap perempuanpun berbeda.
            Perempuan pada kodratnya memang suka berdandan, suka menghabiskan waktunya di depan cermin, mematut dirinya, memoles wajahnya dengan bedak, lipstik dan lain sebagainya. Sebagai perempuan sayapun demikian. Walau saya tidak mahir dalam urusan dandan, namun tak saya pungkiri bahwa sayapun ingin terlihat cantik dan fresh ketika dilihat oleh orang-orang disekitar saya. Jadi setiap hari saya menggunakan alat make up  sekadarnya agar tidak terlihat mencolok dan tidak mengundang.
            Islam menyukai hal-hal yang indah. Maka dari itu kita sebagai perempuan dianjurkan untuk terus merawat diri dengan sebaik-baiknya, karena tubuh kita merupakan pemberian dari Allah SWT yang patut kita jaga baik-baik dengan cara yang baik pula. Namun merawat diri sesuka hati bukan berarti memperbolehkan kita untuk merubah bentuk tubuh kita. Salah satu contohnya adalah menyulam alis.
            Memakai make up boleh-boleh saja asal tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik. “Lho kak, aku anak tari ka, jadi setiap pentas harus pakai make up tebal. Apa itu tidak boleh?” dulu saat masih duduk di bangku SMA saya pernah menanyakan hal serupa  kepada guru agama saya, Ibu Lisnawati namanya. Beliau mengatakan bahwa dalam kasus diatas dan kasus-kasus serupa boleh saja asalkan tidak menggunakannya setiap hari.
            Salah satu alasan dilarangnya menggunakan make up sebetulnya adalah ditakutkan akan menimbulkan syahwat. Ketika kita berdandan berlebihan dihadapan laki-laki dan laki-laki itu tak bisa menjaga pandangannya. Apa yang akan terjadi? Dan bolehkah kita berdandan sebegitu cantiknya dihadapan laki-laki yang bukan mahram kita? Ketika kita bersolek, coba fikirkan, untuk siapa kita bersolek? Tidakkah kita berdosa jika bersolek agar bisa dilihat dia yang buka mahram kita?
            Dalam hal berdandan menurut saya sah-sah saja selama masih diambang kewajaran. Kita bisa menggunakan bedak sekadarnya agar wajah kita tidak kusam dan bisa memakai lipstik yang bisa membantu bibir kita agar tidak kering dan berwarna netral tidak terlalu merah seperti habis makan bayi (Ini istilah anak-anak remaja yang biasa mengejek temannya yang berlipstik merah menyala dengan kata: Seperti habis makan orok (Baca: Bayi)). Dan tentunya dengan niat bahwa kita merias diri untuk merawat tubuh dan agar terlihat rapih bukan agar bisa dilihat oleh laki-laki yang bukan mahram kita.
            Jadi teman-teman yang masih suka berhias diri demi dilirik dia, coba direnungkan ya. Saya bukan orang yang sudah baik perangainya, namun marilah kita sama-sama melakukan yang terbaik dari hal-hal kecil. Semoga yang sebelumnya rela berjam-jam di depan cermin poles sana sini agar dia yang bukan mahram kita bisa melirik bahkan mencintai kita, segera memperbaiki niatnya dan dandanannya. Bantulah ia para lelaki untuk menjaga pandangannya juga.

            Akhirnya, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dan salah baik dari isi maupun yang lainnya mohon dimaklumkan dan mohon kiranya berkenan untuk memberikan kritik dan saran yang membangun agar dilain kesempatan penulis bisa memperbaiki kesalahannya.

Sabtu, 29 Juli 2017

Tuan Bantal

Tuan Bantal

Hai tuan bantal, kita jumpa lagi pagi ini
Mendekatlah, aku merindukan dekapanmu hingga kerelung hati
Sama halnya rasa sakit, kan ku peluk, ku cium dan ku dekap kau lebih erat lagi
Dengan keikhlasan, penerimaan dan pemahaman sejati
Yang didapatkan oleh pencarianku selama tiga hari

Tuan,
Beberapa hari lalu aku mengadu pada tuan tisu.
Namun, kini aku datang tak tuk ceritakan apa yang telah lalu
Aku hanya ingin ceritakan apa yang ku dapat slama 3 hari mengunci pintu
Dengan air mata membanjir aku terus menggerutu, menyalahkan ini dan itu
Hingga akhirnya aku menemu titik sumbu
Ternyata, jawaban semua rasa sakitku hanyalah dengan membuka hati yang baru.

Tuan,
Kan ku jelaskan apa yang barusan aku sampaikan
Ku buka hati yang baru tanpa melupakan semua yang telah kulewatkan
Ku buka hati yang baru tanpa memikirkan hal buruk yang pernah kudapatkan
Ku buka hari yang baru tanpa niatan tuk serangkan pembalasan
Ku buka hati yang baru dengan belajar memahami sisi-sisi kemanusiaan
Ku buka hati yang baru dengan penuh kedewasaan
Ku buka hati yang baru dengan keikhlasan tuk memaafkan

Tuan,
Tolong katakan pada tuan tisu bahwa aku telah temukan jawaban
Ku niatkan tuk tak lagi ku tonjolkan kebencian
Kini aku bahagia, dengan mencoba menerapkan makna penerimaan
Aku tak katakan sudah hilang semua kepediahan
Dusta kalau luka ini telah kering tanpa bekasan
Namun setidaknya, aku telah menemukan secercah harapan
Tuk menghilangkan rasa sakit yang kemarin aku adukan
Perihal sisa-sisa kepedihan, doakan saja semoga semakin luntur seiring jalan.

Jakarta, 30 Juli 2017



Rabu, 26 Juli 2017

Tuan Tisu Aku Perlu Kau Tuk Dengarkan Keluhan

Tuan Tisu Aku Perlu Kau Tuk Dengarkan Keluhan

Selamat siang tuan tisu.
Mohon maaf menganggu.
Siang begini sepertinya enak tuk mengadu
Maukah kau mendengarnya? Tak masalah sambil menghisap cerutu

Tuan, 
Mengapa di dunia ini harus ada perasaan?
Mengapa sulit sekali berdamai dengan keikhlasan?
Mengapa perasaan ini begitu menyakitkan?
Mengapa kesal ini terus berkepanjangan?

Tuan,
Hari ini aku ingin menceritakan sesuatu padamu lewat tulisan,
Perihal kegagalanku dalam menggandeng keoptimisan
Perihal kekalahanku melawan rasa dendam
Perihal ketelakkanku di tendang rasa tentram

Tuan,
Mengapa begitu sakit kurasakan?
Beginikah setiap insan menghadapi kekalutan?
Hanya bisa menangis dalam sujudan
Tak bisa berkata-kata selain dengan derai tak berkesudahan?

Tuan,
Aku kesal sekali pada diri ini tuan
Aku telah egois dalam memilih jalan kehidupan
Aku merasa menjadi seburuk-buruknya insan
Aku merasa aku lebih buruk dari si Tatan.

Tuan,
Tak kiranya ku bisa kendalikan perasaan
Selama ini telah aku relakan, ikhlaskan, semua pengorbanan
Tak pernah ku ungkit barang selaman
Selama ini hanya kesalahanku yang kusesalkan

Tuan,
Kemana hilangnya kepositifan?
Yang selalu aku ucapkan saat temanku berada dalam permasalahan?
Kemana?
Mengapa tak berlaku kata-kata itu kini bagiku tuan?
Begitu naif kurasakan.

Tuan,
Hati ini berkecamuk tak kesudahan.
Tolong dari situasi ini aku kau larikan
Kemanapun asalkan tak kembali ke jalan kenegatifan melihat kawan
Kembalikan aku ke keadaan semula yang penuh dengan keluguan
Biar aku dibodohkan,
Tak apa, asalkan aku tak memiliki rasa benci, itu sudah kecukupan.

Tuan,
Hari ini hatiku penuh dengan prasangka kehitam-hitaman
Air mataku tak kunjung berhenti mengalir dibarengi sendu-sedan
Terus terngiang dikepalaku bahwa sia-sialah semua pengorbanan dan pengabdian
Semua yang aku korbankan hanya menjadi bahan lelucuan
Tanpa tau begitu perihnya kurasakan perjuangan.

Tuan,
Dulu kututupi sikap buruknya dengan keoptimisan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan melihat tubuhku penuh kesalahan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan sebuah keikhlasan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan berfikiran aku harus memiliki sikap kedewasaan.

Tapi itu dulu tuan,
Sebelum pukulan maha dahsyat menikam telak didadaku
Yang sedari awal kumaklumkan kini membesar menjadi batu
Tajam, dan dengan tega melukaiku
Tanpa ampun kurasakan itu

Tuan,
Kali ini aku ingin menjadi mereka kebanyakan,
Aku akan belajar tentang keapatisan
Biarlah dalam kepala mereka aku kekanakkan

Asalkan hatiku kini bisa menjadi tenang tanpa kesakitan.

Selasa, 11 Juli 2017

Tuan Yang Lain.

Tuan Yang Lain


Tuan,
Hari ini wajahmu sungguh rupawan,
Membuat jantungku berdetak tak karuan,
Membuat gelenyar aneh di dada tak tertahan,
Membuat separuh akalku hilang tertawan.

Tuan,
Mengapa rupamu hari ini amat menggemaskan?

Lihat Tuan,
Binar matamu menunjukkan kebahagiaan,
Gelak tawamu bahkan tak mau kalah saingan,
Hingga senyummu sedari tadi ikut muncul diperaduan.

Tuan,
Apa ini sebuah jebakan?
Kau menjebakku dalam sebuah pikatan tak terdeskripsikan?
Kau sungguh memikatku tuk merasakan?
Merasakan.. Maaf, biasa disebut apa rasa ini tuan?

Tuan,
Pada detik ini kembali rasanya ingin ku tanyakan,
Perihal nama rasa yang kau titipkan tanpa beban,
Untuk kali kesekian,
Rasa apa yang kau titipkan ini tuan?

Tuan,
Mengapa efeknya begitu dahsyat kurasakan?
Lihat tuan, lihatlah bagaimana bibir ini dengan sendirinya menyunggingkan senyuman.

Cepat Tuan!
Ku mohon, cepatlah katakan!
Perasaan apa yang kini mengendap disana tanpa perasaan?

Tuan?!
Mengapa aku mulai merasakan kegelisahan?
Apakah.. Apakah ini yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan?




Jakarta, 11 Juli 2017

Minggu, 09 Juli 2017

Tuan

Tuan


Tuan,
Tolong tunjukkan,
Bagaimana cara memendam amarah?
Mengapa tak kiranya bisa kulakukan dengan mudah?
Tunggu, apa itu mudah?

Tuan,
Malam ini hujan datang berkunjung,
Menghantarkan  desah, gelisah dan amarah
Dia seakan mengungkungku dalam pasrah
Gemuruhnya, membuat hati ini semakin gundah

Tuan,
Tolong ajarkan aku tuk sabar menerima ujian,
Bukan sekadar marah akan semua tuduhan
Bukan sekadar mengeluarkan kata-kata tak berpendidikan
Bukan sekadar memecah perabotan rumah tak karuan

Tuan,
Jangan diam saja.
Jangan acuhkan aku begitu saja
Bahkan tak ada seorangpun yang mau diacuhkan di dunia
Tolonglah, jawab pertanyaanku.

Tuan,
Mengapa kau diam saja?
Kau begitu kokoh, dan penuh kesabaran
Mengapa kau hanya menatapku begitu saja?
Tak mau kah kau berbagi padaku sebuah ketentraman?

Tuan,
Maafkan bila aku tak sopan
Namun aku mulai muak dengan semua keadaan
Melihatmu diam, membuatku tambah tak karuan
Rasanya ingin mencaci siapa saja yang ada di peraduan.

Tuan,
Tak sudikah kiranya kau berbagi sebuah rahasia ke ikhlasan?
Sebab dari mulai amarah, penerimaan hingga ketentraman yang ku tanya tak kunjung kau beri jawaban
Kali ini, keikhlasanpun rupanya kau enggan pula menjabarkan?
Kau egois tuan!
Kau begitu egois dengan kelebihanmu akan kekokohan.

Cih!
Kau masih diam saja tuan?
Baiklah, baiklah..
Nampaknya sia-sia saja berbicara, menghamba akan sebuah jawaban kepadamu tuan,
Aku akan pergi meninggalkanmu tuan.

Tuan?
Kau  bahkan tak memanggilku,
Tak jua memanggilku tuk berbalik padamu,
Cih. Sombongnya dirimu tuan.
Baik, kali ini takkan ku tolehkan mata ini barang sebentar
Ternyata meminta arahan darimu hanyalah kesia-siaan
Dasar tembok sialan.



Jakarta, 9 Juli 2017

Sabtu, 08 Juli 2017

Opini 1 - Mengapa melulu Soal Nikah Muda dan Jodoh?

Assalamu’alaikum..
Kali ini aku akan membahas mengenai pendapatku mengenai beberapa pendakwah muda di Indonesia. Nah, semoga bermanfaat dan selamat membaca:

Mengapa melulu Soal Nikah Muda dan Jodoh?

Di Indonesia belakangan ini sedang viral masalah nikah muda. Bukannya salah ketika ada seseorang yang ingin menjauhi kemaksiatan karena sudah tak tahan akan kebutuhan biologisnya dengan cara menikah. Dengan menikah pasangan tersebut akan terbebas dari dosa. Karena seperti yang kita tahu bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom akan berdosa jika mereka saling bersentuhan bahkan ketika mereka saling bertatap muka dengan nafsu itu merupakan zina.

Pada postingan kali ini, saya tidak akan membahas mengenai pernikahan karena jujur selain tidak memiliki pengetahuan yang mendalam terkait hal tersebut dan belum ada keinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, saya pun belum pernah menikah. Saya hanya akan mengemukakan apa yang saya rasakan sebagai orang awam melihat fenomena pendakwah muda yang terus menerus membicarakan pernikahan dan jodoh sementara sebetulnya tidak melulu soal itu yang perlu diketahui oleh khalayak ramai.

Belakangan ini ntah siapa pelopor atau apa yang menyebabkan para pendakwah muda lebih memilih membicarakan melulu soal pernikahan dan jodoh. Sekali lagi saya tidak menyalahkan hal tersebut. Hanya saja saya sedikit terganggu akan beberapa pertanyaan yang seringkali muncul dibenak saya ketika melihat si pendakwah muda terus membahas mengenai hal tersebut.

Saya sering kali bertanya kepada diri saya sendiri mengenai, “Apa sebenarnya motif para pendakwah muda yang selalu membicarakan soal pernikahan dan jodoh?” apakah jawaban dari pertanyaan saya tersebut hanyalah semata untuk menarik kaum muslimin muda yang ada di Indonesia untuk dapat hadir dalam sebuah majelis ilmu yang didatangi mereka tersebut? Karena berdasarkan riset yang saya lakukan dengan melihat respon para kaum muslimin muda terutama akhwat, mereka begitu yang senang dan antusias jika ada suatu acara yang membahas mengenai cinta secara islami?

Kalau motif para pendakwah muda hanya seperti yang dikatakan diatas, saya sangat menyayangkan. Karena sebagai seseorang yang dangkal dan haus akan ilmu agama sebetulnya bukan hanya masalah tersebut yang dibutuhkan. Mengapa tidak dipadukan dengan pembahasan ilmu lain? Seperti tata cara sholat dan wudhu mungkin? Atau bahkan ilmu fiqih?

Sederhananya seperti ini,
Untuk menarik jamaah bolehlah di dalam suatu acara atau seminar islami mendatangkan ustadz/ustadzah yang sedang mengetren dikalangan muda muslim, dan untuk jauh mendatangkan lebih banyak lagi audien dalam acara tersebut dimasukkan tema cinta islami yang sedang digandrungi mereka pula namun cobalah datangkan juga ustadz atau bahkan kiai yang ilmunya jauh lebih dalam sehingga bisa menjelaskan masalah-masalah ibadah secara benar sesuai ajaran Rasulullah. Setidaknya walaupun ada kemungkinan audien akan bosan mendengarkan ceramah terkait hal tersebut, sedikit banyak akan ada ilmu-ilmu baru yang akan merekat diingatan mereka.

Selain itu, dalam akun media sosial pun seharusnya para pendakwah muda hendaknya melakukan hal serupa, masukkan unsur-unsur informasi keagamaan lain yang tidak melulu soal pernikahan, jodoh dan cinta. Jangan pernah takut akan followers-nya berkurang atau like-nya sedikit karena dakwah tak sebecanda soal menginginkan like dan followers yang banyak. Dan sedikit pesan dari saya, Ilmu agama itu berbeda dengan ilmu umum. Ilmu umum dapat dipelajari lewat buku dan internet, sedangkan ilmu agama harus ada gurunya, karena salah satu guru saya di pesantren pernah menjelaskan bahwa ilmu agama yang kita peroleh akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, siapa gurunya, dari Rasulullah kah ilmu tersebut, dsb. Jadi, jangan pernah mengajarkan ilmu agama hanya sekedar perkiraan benar dan salahmu saja ya, harus jelas dalil dan lain sebagainyanya. Oke. Selamat berdakwah! Lanjutkan apa-apa yang sudah baik dan perbaiki apa-apa yang kurang baik.

Apa yang dikatakan diatas murni pemikiran saya jadi kalau ada kekurangan mohon dibetulkan karena saya masih sama-sama belajar. Mohon kritikannya ya. J

Wassalamu’alaikum..

Sabtu, 01 Juli 2017

Sajak Patah Hati,

Sajak Patah Hati:

Cinta

Kegelisahan kini menyelimuti jiwa
Ditambah asa yang kian menipis
Diberi toping ketakutan diatasnya
Dan, cukuplah tuk mengundang tangis

Derap langkahmu, membuatku terpojok
Telinga disumpal, namun masih terdengar
Aku berlari, menhempaskan tubuh di balik tembok menjorok
Mata ditutup, namun kau semakin terlihat liar

Jiwaku mulai berlarian,
Hatiku dipenuhi teriakkan,
Jantungku berdetak tak karuan,
Hanya, ragaku meluruh diam tertekan.

Aku hanya bisa mengerjapkan mata sebentar lalu berkata:

Pergilah tuan, kenapa hanya aku yang kau datangi? Bukankah itu tidak adil? Keadilan macam apa yang kau pegang sehingga kau datang hanya kepadaku saja? Bukankah cinta yang sempurna datang dari dua arah? Kalau hanya satu arah itu hanya menyiksa saja, pergilah. Jangan datang padaku. Datang saja padanya. Semoga kau bahagia, dengannya.


Jakarta, Juni 2017
Oleh: Upi1612

Sajak Patah Hati

Sajak Patah Hati:

Dikoyak Malam

Ada yang murka di koyak malam
Saat bulan bertangger menggunakan kacamata
Sambil meminum kopi manis di udara
Gempa terjadi di dasar sana
Hingga rupa warna menjadi kelam.

Dahsyat.
Gemuruhnya meluluhlantakkan semua yang sudah tertata rapih
Tak ada satupun selamat dari goncangan
Yang merdeka hanya benci,
Bersama iri yang terus mengabdi
Di dasar sana semuanya kelimpungan
Mencari tempat sembunyi namun yang terjadi hanya diam tertindih.

Angkasa mulai mengamuk
Meremukkan setiap rasa sayang, cinta dan bahagia
Menggantinya dengan kejam, dengan patah hati pengguncang jiwa
Disetiap sudut sakit hati menarik pelatuk
Hingga semua orang kini sekarat setelah batuk-batuk.

Dor!
Dor-dor!
Dor-dor-dor!

Di dasar sana semua terkapar
Dengan wajah pucat pasi mereka terbakar
Racun cemburu penggandeng patah hati mulai mengakar

Semuanya mulai terjangkit wabah dendam melihat fotomu: berdua dengannya dengan tangan saling melingkar.


Jakarta, 1 Juli 2017
Oleh: Upi1612

Senin, 12 Juni 2017

Kepadamu Aku Memohon..

Kepadamu Aku Memohon..

Bu,
Dalam langkahku aku mengaku
Salahku mengurung senyummu
Nakalku mengundang didih darahhmu
Tapi percayalah bu,
Aku masih putrimu
Kebanggaanku adalah saat engkau tersenyum padaku
Kesedihanku adalah saat engkau hanya datar menatapku
Kepergianku adalah saat engkau hanya sekilas melirikku

Bu,
Tak adakah maaf untuk anak gadismu?
Setitik nila yang ku tumpahkan pada hatimu
Tak bisakah ku kuras agar bisa mengebalikan kesucian hatimu
Tak bisakah maafku bertengger dengan syahdu?

Aku tak kuasa lagi bu,
Hati ini terlanjur menyakitimu
Itu adalah pukulan untukku ambil jalan buntu
Kalau diammu adalah penawar terbaik untuk dukamu
Aku tak kuasa bu,
Egoku sama sepertimu,
Aku hanya ingin kau tersenyum
Memaafkan aku dengan setulus hatimu
Sebab, aku ragu
Aku tak akan kuasa menahan tangisku setiap ku melihatmu
Secercah asaku sudah mulai genting melihat raut wajahmu sendu
Tolong jangan diamkan aku.

Bu,
Jika boleh memilih hukumanku
Cambuk saja aku bu,
Jangan lewat fikiranku, jiwaku, hatiku
Cukuplah ragaku bu

Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku bu,
Kalau beberapa hari kedepan kau masih tak sudi melihatku
Tolong maafkan aku bu
Maafkan aku yang selalu menyakitimu
Tak bisa dibanggakan layaknya yang biasa kau elu
Aku tak kuasa lagi bu,
Tolong jangan siksa bathinku
Aku merindukan senyummu.

Maafkan diriku bu

Maafkan aku yang tak tau diri bu
Maafkan aku 
Maafkan..

Bu, dalam diammu
Yang kufikirkan hanya satu
Hingga rasanya kini telah hilang akalku
Aku ingin membujur kaku
Dipangkuanmu.

Minggu, 09 April 2017

Salah

Salah


Akulah raksasa bagi takut-takutmu akan rasa bersalah
akulah nenek sihir bagi kesadaranmu akan kekeliruanmu
Akulah hantu bagi takut-takutmu akan rasa pasrah
akulah cenayang bagi kesadaranmu akan kebodohanmu


Aku si manusia egois yang terus mengungkungmu dalam beban
meski tanggung jawabmu lah yang ku minta
dengan sisa-sisa air keringat mengejarmu
yang terus berlari dengan sarung yang menutupi dosa


aku si mamusia apatis yang terlalu malas mengurusi kehidupanmu
bahkan untuk hidupkupun aku tak begitu menghirau
namun taman, tanggung jawabku menyeretku terus,
terus menemuimu tuk tunaikan tugasmu


aku si manusia bodoh yang tak kenal huruf
ilmuku seatom kurang jika di bandingkan isi kepalamu
maafkan aku yang terlalu naif
tak sudikah kau gunakan otak cemerlangmu tuk membantuku?


Siapa yang benar dan siapa yang salah?
Lelahku membisikkan turunkan ego dan bawa dia kembali
perasaanku berperang mengatakan aku salah
dan disinilah aku.
terkungkung dalam kotak penuh coretan rasa bersalah, dan selalu merasa salah.

Kamis, 02 Februari 2017

Tak Sama

Tak Sama


Salah telah ku sangka
keagungan dimuliakan sia
dalam debar sayang menguap 
dalam debar rindu meratap

kau disana menanti senja
aku disini menanti temu
sebuah tujuan tak bersumbu
kau lari, luruhlah aku

tak ada titik temu di belakangmu
tak ada titik temu di depanmu
tak ada titik temu di belakangku
tak ada titik temu di depanku

karena,
Jauh telah mengadikara jarak
mewayangkan sarkasme telak
tentang laku aslimu menyeruak
dan laku asliku kalah telak

pada intinya,
kau dan aku terbatas tembok raksasa
aku dan kau terkurung ego belaka
kau dan aku terbuai saling lara
aku dan kau terlalu malas bertatap muka.

kau egois, aku apatis.

Jumat, 27 Januari 2017

Kangen.


Hai, pakabar?

"Gue mau cerita. Gue bingung banget. Gue nggak kuat. Gue ngerasa dunia mulai kejam banget sama gue. Dunia nggak mau lagi ngasih gue kemujuran hidup kayak yang sebelum-sebelumnya. Gue kangen ketawa lepas kayak dulu, gue kangen dimanja kayak dulu, gue kangen dijadiin ratu kecil kayak dulu. Demi apapun gue kangen banget ._.



Yang gue rasain sekarang itu hidup gue berubah total. Ternyata hidup benar-benar kayak roda ya, terus berputar kadang diatas kadang di bawah. Dan inilah titik dimana gue benar-benar ada di bawah. Semua orang berubah. Dan gue dengan kepolosan plus kebodohan gue, gue nggak bisa menyeimbangkan antara semuanya. Semuanya terlalu cepat untuk gue. Gue masih kayak anak kecil yang cuman bisa bilang kangen pas semua masalah mampir ke hidup gue.

Gue mulai menemukan orang-orang baru. Dimana sifat-sifat merekapun baru. Dan lagi-lagi gue nggak bisa menyesuaikan diri. Fikiran kita nggak pernah nyatu. Mereka dengan keegoisannya sendiri dan gue dengan ketidakberdayaan menunggu keajaiban merubah mereka datang. Gue pernah mengatakan kalau gue memang nggak sama dengan mereka. Fikiran gue masih kerdil, masih seperti anak-anak ketika kalian bisa menertawakan masalah orang lain. Gue hanya bisa memandang sedih. Ternyata orang dewasa suka menertawakan kesulitan temannya. Egois. Dan seharusnya guepun melakukan hal serupa. Namun gue masih anak kecil yang tidak bisa egois mementingkan diri sendiri.

Gue butuh teman. Gue butuh seseorang yang bersedia menjadi tempat keluh kesah gue selain sajadah si perantara pengaduan gue denganNya. Kadang disaat-saat seperti ini rasanya gue ingin sekali mendesak seseorang yang pernah mengatakan, "tenang pi, ntar di sini kita juga ngasih kebahagiaan kok ke elu." ternyata kebahagiaannya sepotek-sepotek, tidak utuh yang utuh justru konfliknya. Dan gue merasa jadi korban sekaligus tersangka diwaktu yang bersamaan.

Gue kadang suka berfikiran, kalo gue itu anak durhaka semakin kesini. Orang tua gue udah cape-cape nyariin duit buat gue. Tapi yang gue lakuin malah membohongi mereka. Walau maksud tujuannya itu baik. Namun tetap aja. Gue yang nggak pernah boong jadi tulang boong ulung. Gue cape. Gue cape boong terus tapi kalo nggak boong juga gimana? Tanggung jawab gue dimana? Amanah yang di kasih kegue juga bawa-bawa akhirat, guenya jadi takut sendiri. Tapi nggak ada yang ngertiin gue. Gue udah bela-belain sering boong ke orang tua gue. Gue biarin orang tua gue nggak ada yang bantuin di warung, tapi balesannya ke gue malah begini. Kadang kalo mengumpat itu dibolehin etika dan agama gue bakalan teriak. "Ee Kucing!" tapi gue sadar gue orang berpendidikan yang tau kalo kata2 kasar itu nggak boleh diucapin karena dapat menyebabkan sakit hati buat yang denger.

Gue bingung. Disatu sisi keluarga gue ada masalah disisi lain di kampus gua juga punya kewajiban. Gue salah. Iya gue salah mulu. Gue cape tapi nggak ada timbal baliknya. gue cape berjuang sendirian. terlebih orang yang paling deket sama gue malah ninggalin gue gitu aja. Gue kangen tante gue. Gue selalu kangen saat-saat tante gue ngajak gue pergi jalan-jalan, gue selalu kangen saat-saat gue dimanjain tante gue, gue selalu kangen disuruh makan sama tante gue, gue kangen di tawarin makanan setiap gue sakit, gue selalu kangen disuapin tante gue setiap gue nggak mau makan, gue selalu kangen tante gue yang nggak bolehin gue megang cucian karena takut tangan gue kasar, gue kangen tante gue yang selalu ngebelain gue setiap gue dimarahin, gue kangen tante gue yang selalu memberikan kupingnya utuh untuk mendengar cerita-cerita gue, gue kangen denger suara tante gue yang lagi nyanyi lagu nike ardila, gue kangen meluk tante gue, gue kangen cium tante gue, gue kangen..

Semakin kesini gue semakin ngerasa kalo gue lagi dipermainkan takdir. Gue yang nggak pernah nangis jadi gue yang selalu nangis. Gue belum siap jadi dewasa. Gue belom siap nyuci, ngepel, nyapu, beresin rumah, jagain warung, beli ini beli itu dan denger kata-kata kasar. Gue masih ngerasa kecil. Gue sadar cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Namun aku hanya memohon jangan di percepat. Gue nggak siap. Kalaupun harus. Tolong kirimkan sosok tante gue biar gue bisa tegar. Gue rapuh. Kadang gue setiap liat pisau udah mikir yang nggak-nggak. Rasanya gue mau ambil dan ngelakuin hal terbodoh dan tak beragama itu.

Gue aneh ya?
Ya emang itu kenyataannya. Ah gue sedih. Gue bodoh ya?"



-Dari dia yang paling keras tertawanya.-


Sabtu, 07 Januari 2017

Duo X

Duo X

Siang itu:
Aku merasa Tuhan sedang menghukum seseorang lewat teriknya matahari yang terus mengekang tubuh kami hingga dahaga terus menumor di tenggorokan kami.

Siang itu:
Antrean bus wisata semakin memanjang. Manusia dari berupa-rupa umur mengantre dengan takzim di sebuah bahu jalan yang sudah di sulap menjadi tempat antrean bus wisata dengan pembatas buatan yang terlihat asal-asalan.

Siang itu:
Teriknya matahari menarikku tuk menengok ke kanan dan ke kiri mencari setitik keindahan yang tersisa di kota Jakarta selain kemacetan yang sudah hampir meng-icon. Tak percaya? Sebut kata macet maka ku tebak Jakartalah yang pertama kau bayangkan.

Siang itu:
Orang-orang mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang sibuk berkutat dengan barang dagangannya, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang subuk mengibaskan kerah baju kegerahan, ada yang sibuk mengantre panjang, hingga ada yang sibuk berpacaran.

Siang itu:
Matahari semakin mengatas ubun-ubun hingga panasnya benar-benar menderaskan peluh di dahi dan dibeberapa angkota tubuh lainnya. Hingga rasanya ingin ku teriakkan seluruh manusia agar tobat hingga azab tak benar-benar datang menjemput.

Siang itu:
Aku mulai mengetahui sesuatu. Sesuatu untuk pertama kalinya aku lihat dalam kurun waktu 18 tahun 11hari. Yang mengolok diriku sendiri menyadari kepolosanku dalam melihat kehidupan luar. Rupanya aku benar-benar katak yang terkurung dalam tempat korek api yang sempit.

Siang itu:
Debu jalanan mulai bersekongkol dengan matahari. Aku melihat di depanku ada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan dengan mesra. Awalnya biasa saja, namun setelah salah satu darinya berpaling. Aku terkejut. Ini tidak benar.

Siang itu:
Matahari mengajarkanku. Tanda-tanda keanehan dunia sudah bermunculan. Dan teriknya siang itu menunjukkan salah satu penyimpangan penabur tanda kiamat sudah dekat. Dan itulah mereka contohnya. Dengan pakaian yang sama, perawakan yang sama, jenis kelamin yang sama saling menautkan jari dengan mesra sepanjang jalan hingga antrean bus pariwisata.

Selasa, 03 Januari 2017

Kepada Malam Aku Mengumpat

Kepada Malam Aku Mengumpat

Sebuah pukulan muslihat,
mengena jantung atma
melumat apa saja menghancurkan caya
aku mengenalnya nestapa, namun ntah engkau bagaimana.


sekali lagi.
bentuk tak terlihat
namun cukup untuk menusuk ulu hati:
pada intinya.
tidak lagi pada kulitnya: yang mudah di jahit/

akulah sipenghujat malam.
dengan beban menggunung di punggung
aku menyelam.
mengarungi derasnya waktu melimbung

tak tentu arah.
namun sejarah terlanjur melukis perih.
menawarkan benci dan dengki berdalih.
wahai malam, aku ingin tau kenapa kau pilih kasih?

aku bukan siapapun memang.
namun apapun membuatku nyeri.
begitu gamang.
hingga rasanya aku ingin mati