Selasa, 27 Desember 2016

Jika Kau Mendengar

Jika kau mendengar:

Maafkan aku yang belum sempat berkunjung kepusaramu.
Sekiranya jika kau berkenan tolong hadirlah di mimpiku.
Aku ingin mencumbumu dengan kata rindu.
Aku ingin mendekapmu dengan senyum palsu.
Aku ingin mengganggammu dengan kisah baru.
Aku ingin menyender di bahumu dengan keluh kesahku.
Aku ingin tegak di sampingmu dengan semangat baru.

Aku ingin.. Seperti dulu bersamamu mengarungi waktu.

Minggu, 25 Desember 2016

Jarak

JARAK


Malam kembali menegurku lewat desir angin
Begitu dingin, menusuk kalbu
Membekukan senyum manis yang baru saja ku rapai
Membiarkanku kembali bergelut dengan kerisauan

Ntah apa salahku pada malam, pada bulan, pada bintang, pada angin dan pada debu yang terus mengurusi jalan hidup
Hingga tiap langkahku adalah suatu kesalahan
Sering kali terlihat fatal, padahal hanya kecil
Begitulah dia yang selalu menggunakan kaca pembesar pada setiap kesalahan kecil.

Rasanya tiap kali mendengar suaranya
Bulu kudukku berjengkit
Gemetar mengatmosfer 
Hingga batuk meriakkan darahpun tak dipeduli.

Kini kembali pada malam,
Wajah tanpa dosanya membelalakkan mata,
Menyeretku kedalam jurang pesakitan
Dengan cara tak jauh beda seperti yang telah lalu,
Cerita klasik, yang terus menusuk.

Malam menitipkan teguran itu pada jarak
Semakin semarak membuatku muak
Jarak kembali mengatur cita yang ku sebut luka
Menguakkan perbedaan lewat hadiah terbuka
Kini beda isi kepala yang di galinya
Sengaja diperumit walau sudah ku kata, "biar aku tidak bisa berdebat dengannya setidaknya aku pendengar setia. Itu saja. Tak perlu memperdebatkan sesuatu, jika hidup harmonis masih bisa di emban."
Namun kau tak mengerti jua.
Dan.
Aku memilih pergi, dengan sebuket kecewa.

Malam

Malam

Dibawah temaram lampu bulan
Aku menengadah
Menikmati desir angin sebari menunggu nasi goreng pesanananku
Dengan ukuran kepedasan sedang sepertu biasa.
Tiba-tiba sesuatu menusuk
Hambar.
Perasaan asing kini menyebar
Merasuki nasi goreng yang kini sudah berpindah tangan
Langkahku sempoyongan berdalih ingin pulang
Dan malam kembali kelam.
Bersama perasaannya yang kini hilang.
Kamu.


Jakarta, 25 Desember 2016

Rabu, 07 Desember 2016

Rindu

RINDU


Sang baginda raja hati ini menyapa
berlarian angin memburu padanya
dunia melupakan kodratnya tuk berputar
semuanya terpaku
ingin memekik namun diam menguasa
pada sang kesatria jiwa
pemasung rindu
dengan berpedangkan sapa
hati ini mati seketika.

Aku rasa gila menyeruak
pepohonan tertawa
melihat situasi ini, angin membawaku mengangkasa
memuja Penguasa Jiwa Yang Sesungguhnya
burung kembali membawaku kepundak bumi
menyanyikan suara hati dengan gendang
hingga,
daun-daun tak mau kalah berdendang.

Aku tertawa dengan asa yang kembali hadir lewat kata
untukmu pengikat mati rasa cinta
terimakasih telah memberikan asa baru
namun bolehkah ku tanyakan sesuatu?
bolehkah aku mengharapkanmu,
kembali?

Jakarta, 07 Desember 2016

Sabtu, 03 Desember 2016

Semisal Hujan

Semisal Hujan


Ketika rindu menyibak tirai pemisah
Menjabat temu dengan susah payah
Melata mencoba mengikuti arah
Hingga gundah hanya cerita pongah

Memekik kala tubuh ini tersentuh
Dijabat rasanya mengangkasa
Ingin memeluk namun malulah
Hingga aku hanya bisa menunggu dirimu merasa

Senyumanmu masih sangat sama
Dengan bibir tipis penambah gagah
Kini adikku malu-malu melangkah
Aku ingin memeluknya namun tak kuasa

Aku hanya bisa memandanginya menjabat tangan ini
Rindu.
Namun kilatan kekecewaan tiba-tiba muncul
Kembali lagi tanpa diundang
Kini ku kembalu berperang

Rasanya sakit ketika justru sikapnya semakin berubah
Nelangsa aku melihatnya sudah
Fikirannya terkontaminasi sampah
Dari lingkungannya.
Dari dalam dirinya.

Aku ingin menangis
Menampikkan rasa kesal menjadi sendu
Namun hati ini tak sesempurna milikmu
Jadi, aku hanya bisa tersenyum miris melihat tingkahnya

Atmosfer malu mengungkung diriku
Melihatnya aku sedih
Walau rinduku terbayar sudah
Tapi,
Melihat tingkahnya justru membuatku pasrah.

Kegagalan selalu berkecamuk dalam jiwa ini
Menyalahkan diri ini
Semisal hujan
Air mataku turun menderas
Terus saling bersaut-sautan
Namun dalam hati,
Tak sampai hatiku melihatmu.

Semoga,
Mataku salah melihat tingkah ajaibmu
Semoga,
Tanpa kusadari terpupuk jiwa kedewasaanmu,
Semoga,
Kau sadar apa cita-citaku
Semoga,
Kau memaafkanku yang merasa gagal menjadi kakakmu.