Jumat, 17 November 2017

Nasihat untuk Cinta yang Durhaka

Nasihat untuk Cinta yang Durhaka


Pulanglah nak!
Tak akan ada yang kau dapatkan disana
Selain rasa benci dan cemburu yang merajalela
Tutuplah matamu dengan kain hitam
Agar tak ada setitik cahaya kepedihan yang merasuk dalam jiwamu yang sendiri

Lekaslah nak!
Buah tanganmu dan semua yang ada pada dirimu hanyalah paduan kesedihan yang bom waktu
Kau kan hancurkan diri sendiri ketika kau nekat mendekat
Kau akan porak poranda menjadi puing-puing ketidakadilan kasihmu.

Jangan melamun terlalu lama nak!
Pegang dadamu dan rasakan getaranmu yang tak kan kau dapat balasab balik
Ia hanya akan menjelma granat yang siap meledak
Ku sudah jelaskan kau kan jadi sampah bahkan hanya puing-puing sia-sia

Menolehlah nak! Menolehlah ketika ada yang mengajakmu bicara!
Disini, aku sebagai orangtuamu sedang menasihatimu
Demi kebaikan mu dan juga aku sendiri
Sebab, cinta sejengkal saja kau melangkah
Hujan kan datang di pipimu dan pipiku denhan lebat
Petir akan buat gila kita dalam ketakutan.


Dengarkan lah nak! Kumohon!
Turunkan kakimu atau kau dan aku akan jatuh kejurang nestapa abadi
Cobalah fikirkan aku, kalau alasan dirimu saja tak cukup
Kemarilah nak! Dekap aku saja!
Tak perlu kau berangan mendekap ia yang tampak bahagia bersama cinta yang lain; bukan kau.
Marilah bersulang, buat pesta sunyi tuk hibur hati ini.

Tidak nak! Jangan! Bunuh saja aku jika kau nekat melangkah!
Jangan kau kurang ajar padaku yang telah rasai asam garam kehidupan percintaan.

Baik ku takkan teriak sekarang.
Mendekatlah, kakiku terlalu ringkih tuk sekadar menyentuh harum rambutmu nan wangi
Aku menyayangimu lebih dari dirimu sendiri
Jadi takkan ku biarkan kau lantah di bawah bekukan kasih yang hanya sekadar mimpi; tak pernah repot-repot merentangkan tangan tuk memelukmu.

Tunggu nak! Jangan!
Durhaka! Enyahlah ke neraka!


Kamis, 16 November 2017

Sayang?

Sayang? Yang?


1.
Hari ini
Ada yang berbeda dari caraku menatap elok parasmu
Di sana dadaku berdesir, berdegup, dan ribut menahan gelora yang kian mengacung
Kau mencuri semua akal sehat dalam diriku
Hingga ku limbung dan angin keresahan semakin puas mendikte namamu dalam nafasku


2.
Ku harus apa sayang?

Telah ku tampik semua rasa cinta dengan kasar, namun ia tetap datang dengan sopan sambil membelai pipiku lembut
Penuh perhatian, pertimbangan dan perasaan
Tak pernah ku rasakan sedemikian
Dan ku merasa nyaman hingga hanyut dalam khayalan.


3.
Kau memang tak pernah menyentuhku, apalagi memelukku
Namun senyum itu mampu membuatku hangat, menyusup hatiku yang dingin tercelup lautan salju kutub utara.


4.
Kau tau sayang?
Sekelebet dusta tak pernah ku ucapkan lewat kata dan aksara
Ntahlah, mungkin sebuah hukum alam mewajibkanku tuk jujur dalam beretika mencipta kata
Agar rasa bisa lega, melenggang melewati batu-batu kebohongan yang panas dengan sempurna.


5.
Sayang?
Patutkah ku panggil nama itu untukmu,
Bahkan tuk sekadar meredam kecamuk dalam diri yang kian merangkul mimpi?
Sebab panggilan itu merupakan simbol keputusasaan rasa sayang yang harus hilang ditelan malam
Yang kini mem penuh rasa yang mulai mendahaga kau sahut balik.


6.
Namun ketidakmungkinan datang membawa angin segar
Ditangannya sepucuk surat yang berisi pasal-pasal yang tak membolehkanmu mengatakan sayang pada yang lain apa lagi padaku walau hanya sekadar guyonan,
Sebab disana ada mata wanita yang kau amat kupuja; bila tidak salah.



7.
Sayang kutuk lah aku tuk membencimu!
Buat aku tak sanggup mengucapkan itu padamu sebab rasah, gelisah dan takutku makin meluap dan menjadi hujan kesedihan.
Rintiknya batu-batu pemati harapan
Suaranya penegasan kau milik orang
Petirnya menggelegar membuka mataku agar bisa melihat dunia dengan sadar
Dan banjirnya menjangkit penyakit gigil dan demam rindu yang takkan tersampaikan.



8.
Oh tuanku sayang,
Terlalu banyak kata-kata absurd yang ku ucapkan hari ini
Namun bila saja kau menerawang dari lubuk hatiku yang dalam
Semua kata dalam puisi ini belum penuh; belum bisa mewakilkan perasaanku yang utuh
Getaran rindu dan cinta yang tak tuntas dan tak akan tuntas.
Menghakimiku tuk bungkam.


9.
Semoga tuk terakhir kali ku panggil kau sayang.

Sayang?
Bolehkah?
Maaf kalau ku lancang, bila kau tak mengizinkan, ku kan sebut terus kata itu dalam puisiku yang malang
Sebab darimulah kata-kata itu datang menyebab
Tak mau hilang bahkan semakin subur dalam tatap.



10.
Sayang? Yang?

Rabu, 01 November 2017

Pagi dan Malam

Pagi dan Malam


Pagi melintas dikepalaku
Berjejak alarm tuk dapat di pandu
Dia tersenyum dengan senyuman kaku
Ada yang tak beres dalam senyumnya, palsu.

Pagi menyambar bagai petir
Membawa ketakutan hingga seluruh tubuh getir
Jauh dalam sana hatiku berdesir
Memikirkan sallah ucapku padamu semalam membuatku khawatir.

Pagi datang dengan sepucuk surat
Digenggamannya ada ejekan dari malam yang biasanya hangat
Namun begitu anehnya selamam menjadi tipu muslihat
Dalam bekukan pagi, dalam suratnya ku mengumpat.

Entah pagi atau malam yang membenciku tanpa andeng-andeng
Ancer-acnerpun jauh dari dipan gendang
Sorot matanya menyatatku tanpa sempat disiapkan benteng
Dan kini kesalah fahamanterjadi membuatpengang

Duh. Ku ingin tenggelam saja di dasar bumi
Agar ttak kulihat senyum palsu pagi
Agar tak kuterkecoh muslihat malam tadi
Agar ku benahi hatiku yang kunjung bisa menyikapi.

Kepadamu: ku tak pernah bermaksud apapun
Bahkan rasa memikili tak pernah ku diami sekalipun
Ku tak mau  ikatan harus membayar secuilpun
Biarlah  seperti biasanya kita jumpa dengan tak pernah kenal satu kata sapaanpun

Maaf kalau kautersiksa
Maaf kata-kataku membuat hatimu binasa
Semalam hanya  disana, padamu, ada asa
Dan pagi ternyata sekongkol dengan malam menampilkan hal luar biasa.



Jakarta, 02 November 2017