Sabtu, 18 Juni 2016

Puisi Terpuruk

Terpuruk
Karya: Upi Siti Parhatun

Ringkih hati ini menyerbak pilu
Membias asa mengungkung rancu
Menggelar nista di atas bambu
Mencaci lara dalam bisu
Duduk termenung tak tau waktu,

Panas tubuhku menguak tuju
Getar kakiku membungkus rindu
Parau suaraku menyebar syahdu
Getir rasaku mengikat sayu,

Berlariku kealam abu
Mencari merah tak dapatiku
Mencari putih tak cukup waktuku
Mencari sinar terkilir kakiku
Mencari asa jerami mengolokku,

Sendu sedan tak terbendung keliru
Mendera hati, jiwa, raga tanpa ragu
Hingga ratap sejatinya mulai menjuru
Segala ruang tak luput terayu
Kembali ku terisak tergugu,

Ku sadar ku berada di bawah naungan keputusasaanku,
Rasa sakit menghilangkan akal sehatku,

Ya Allah, ya Tuhanku,
Masih pantaskah kini ku berlari kearah-Mu?
Ku sadar kekeliruan telah mengurungku
Namun percayalah, ku dahaga akan pelukan-Mu

Ku satukan tanganku memohon pada-Mu
Ku mohon, maafkan segala dosaku
Ku mohon, rengkuh aku dalam dekapan-Mu
Agar hilang rasa sakit yang kian menderu
Ku hanya ingin tentram disamping-Mu
Ya Rabbiku.

Jumat, 17 Juni 2016

Puisi Mencari AmpunanNya

Tugas Khazanah Sastra Islam:

Mencari AmpunanNya
Karya: Upi Siti Parhatun


Semilir angin menggugah jiwa
Menyentak rasa terbungkus kaca
Menghardik sukma dalam aksara
kasatmata, dan fatamorgana
Namun, jelas akibatnya

Ketika jiwa temukan tempat tuk kembali
Bergeraklah ia mengambil kemudi
Walau ribuan caci menghalangi
Keterikatan janji telah terpatri
Tak gentar walau raga dikremasi

Semerbak asa membingkai jiwa
Memercikkan kekuatan tuk berkelana
Mencari keutuhan hati nan mulia
Agar dekat ia akan agama
Tak melulu di kungkung dosa

Jiwa kembali bergerak merengkuh mimpi
Kerinduan sejati telah mendarah dalam diri
Menggelora sampai di ujung kehausan afeksi
Semakin mendahaga hingga ia berlari
Menerobos badai-badai nakal tak tau diri

Berlari-berlari dan berlari
Meninggalkan kegemerlapan nista
Berlari-berlari dan berlari
Mencari pengampunan atas dosa

Hingga akhirnya,

Sebuah cahayaNya mulai terpancar
Membisukan bibir jiwa bergetar
Derai air mata kerinduan tersiar
Kepada Sang Ghaffar.



Senin, 06 Juni 2016

Puisi Buku Diary

Buku Diary


Menunggu derap langkahmu itu kebutuhan
Tanpanya tak ada artinya sebuah penantian
Dengannya ku terus mengucurkan harapan
Walau tak ada alasan, takkan ku pernah bosan.
Duduk menanti menunggumu kembali
Hanya itulah arti penting dalah hidup ini
Katakanlah aku bodoh menanti-nanti
Namun, kalau hati mulai merengkuh siapa peduli?
Kebahagiaanku kala penantianku membuahkan
Kau datang dengan tangan lembutmu itu
Kau belai aku penuh gelora perasaanmu
Inilah hal yang ku nanti
Belaian tanganmu membuatku lupa diri
Selalu ku anggap kau adalah kekasihku
Cukup, lupakan!
Sungguh tak ada yang meminta balasan darimu
Bagiku kau adalah kekasihku,
Hanya itu,
Persetan dengan perasaanmu atau pencaci itu
Aku hanya ingin terus bersamamu
Karena..
Menghilangkan kepedihanmu sudah mendarah daging di tubuhku.
Biar ku jelaskan satu persatu
Matamu akan membulat saat kau marah
Tanganmu akan bergetar saat menangis
Bahumu akan berguncang saat kau tersenyum
Semua kuhafal di luar kepalaku.
Kini ku terjerat dalam janjiku
Hidup-matiku ada ditanganmu
Ku abdikan seluruh hidupku padamu
Dan dengan senang hati kau bisa membunuhku
Kau bisa membuangku
Kau bisa menyayangiku
Kau bisa merobek ulu hatiku
Kau bisa memutilasiku
Kau bisa membakarku
Dan ingatlah kalau dengan melenyapkan kesedihanmu hilang
Lenyapkanlah aku sekarang!
Biarlah aku mati bersama memori-memorimu
Aku bahagia,
Setidaknya aku pernah menjadi kekasihmu
Akupun rela,
Karena ini sudah menjadi tugas akhirku,
Karena aku..
Hanya..
Buku Diarymu.

Puisi Orang Awam

Orang Awam



Inilah kami orang awan dangkal agama

Berteriak kesana kemari mencari kebenaran

Sangsi atas sezarrah pengetahuan 

Tak kiranya mampu membedakan kebathilan

Kami laksana daun kering yang jatuh dari peradaban

Terombang-ambing angin kehidupan

Mencari setitik cahaya rengkuhan

Tak ada kegiatan selain doa dan penyesalan

Hingga kami terlarutlah kami dalam kegelisahan

Hari-hari kami penuh dengan kepincangan

Tak bisa normal tanpa keajaiban

Kebodohan kami sangatlah menyedihkan

Semoga tak ada generasi seperti kami dimasa depan.


Haiiiii... Ada yang ngerti maksud dari pusis ini nggak? Nggak ada ya? Yahh :( Nggakpapa deh.  Justru bagus. Dengan kalian nggak ngerti itu berarti membuka peluang aku untuk memulai bercerita. Aku cinta semua hal yang berhubungan dengan menulis. Samahalnya seperti menuliskan namamu dalam setiap doaku. *tzcahh..

Nahh jadi gini. Alasan aku membuat puisi ini adalah. Karena jujur sejujur-jujurnya aku haus akan ilmu agama. Aku merasa kalu diri aku itu nggak bisa apa-apa. Ilmu Agama yang aku punya jauh dari kata sedikit bahkan mungkin Sezarrahpun aku tak sampai. 

Aku bingung. Sedikit menyesal karena kenapa aku dulu tidak menetap di pesantren. Maksudku. Kenapa aku tidak masuk pesantren saja? Kalau aku lulusan pesantren pasti arah tujuan hidup ini akan jelas. Semua yang aku lakukan terus berdasarkan dasar Agama. Aku sadar Agama adalah pedoman. Dan lihatlah aku. Apa yang bisa ku banggakan pada diri ini?

Alasan aku sangat marah saat adikku keluar dari pesantren juga ini. Aku tidak mau dia bodoh agama seperti halnya aku. Tapi sayangnya dia tidak mau mengerti. Ya Sudah aku tidak memaksa. Lagian dia pasti akan menyesal sama sepertiku. 

Ya sudahlah. Itu hidupnya. Semarah apapun aku padanya tak mengubah apa-apa.

Hanya itu sih. Aku merasa,.. Ah sudahlah. :(

Ya Allah. Semoga jodoh Upi nanti laki-laki yang tau agama ya Allah. Agar hambaMu ini bisa di pimpin ke jalan yang benar. hehehehehehe Aamiiin..

Dipenghujung Rindu


Kini aku hanya bisa menatap sebuah bingkai foto yang pernah ku dapatkan saat kau Ujian dulu. Dulu aku adalah adik kelasmu. Adik kelasmu yang sering menyusahkanmu. Adik kelasmu yang sering kau usili dulu. Adik kelasmu yang diam-diam jatuh cinta padamu.


Mungkin kau bingung. Kenapa setiap selesai ujian dulu fotomu yang terpajang rapih di dinding pintu bersama foto-foto teman sekelasmu hilang begitu saja. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Jujur, semua itu ulahku. Aku yang tak pernah berani menatapmu atau hanya sekedar mengajak berfoto bersama. Karena itulah satu-satunya hal yang menurutku masuk akal dulu hanyalah mancuri setiap foto-fotomu selepas ujian.


Aku mengusap bingkai foto itu. Di sana kegilaanku mencintainya begitu terlihat. Coba bayangkan saja siapa orang yang mau repot-repot mencuri foto kaka kelas yang sedang ujian. Mencuri semua foto kakak kelasmu itu. Padahal kamu tau. Kamu faham. Kalau semua fotonya sama. Dengan background yang sama berwarna putih, tatanan rambut yang sama, wajah yang sama, tatanan dasi yang sama, dan senyum manisnya yang sama.


Aku mulai menutup bingkai itu seraya menutup pintu hatiku. Aku tak mau lagi menanti. Karena apalah arti menanti ketika diri kita sendiri bingung apa yang sedang di nanti. Coba katakan padaku apa yang selama ini ku nanti? Apakah aku menantikan senyumannya? Apakah aku menantikan kejahilannya? Apa aku menantikan kedatangannya? Atau itu semua? Tapi sebenarnya apa yang aku nantikan? Dia tak pernah menjanjikan sesuatu pertemuan padaku, tapi kenapa aku tetap menanti? Inilah mengapa aku bertanya apa yang sedang ku nanti.


Kereta Jakarta-Jogjaku datang. Aku memang sudah memutuskan. Melupakan semuanya. Setidaknya kalau aku tidak bisa benar-benar melupakannya, mungkin aku bisa meninabobokan kenangan itu sampai aku benar-benar menemukan masa depanku yang akan membuat kenangan-kenangan indah tentang kebersamaan, bukan sebuah penantian. Impianku sederhana bukan? Tapi mengapa dalam realita tak sesederhana itu?
Aku mulai mencari tempat dudukku. Tak begitu sulit bagiku untuk menemukannya. Karena percaya atau tidak menemukan kursi kereta jauh lebih mudah dibanding menemukan apa kemauanmu. Klise memang tapi itulah yang aku rasa. Aku buru-buru duduk di bangku itu.


Ini kali pertama aku pergi sendirian. Apalagi ke kota pendidikan itu. Mungkin ini jarak terjauh yang pernah aku tempuh sendirian. Keluargaku melepaskanku pergi demi kemandirianku yang ku janjikan kepada mereka. Walaupun rasa takut memang ada di dalam sana tapi tetap saja apa gunanya rasa takut, ketika kau bisa lebih menemukan sesuatu yang baru ketika kau menyingkirkan rasa itu.


Kata orang perjalananku akan memakan waktu sekitar 7jam. Sekarang baru beberapa menit dan rasanya mulai bosan.


Ternyata bepergian sendirian itu memang membosankan. Tak ada teman ngobrol dan tak ada yang bisa mengurangi kebosananmu. Aku buru-buru mengambil headset lalu memasangnya, dan mengalunlah lagu kesukaanku sebuah lagu dari Sheila On 7. Kita. Empat kata penuh pengharapan, penantian dan perpisahan.


Layar ponselku masih menggunakan wallpaper fotonya yang ku potret secara diam-diam saat dia sedang bermain bola volly disana. Unik. Olahraga kesukaannya adalah bola volly lain dari kebanyakan laki-laku seusianya yang lebih menyukai permainan sepak bola.


Dan hap! Rasa itu kembali lagi.


Terus seperti itu. Aku terus dirundung sebuah rasa rindu yang mungkin hanya milikku. Tak bisa ku pastikan dan aangat sulit untuk aku bayangkan. Karena sebuah bayangan tidak pernah sama dengan kenyataan. Bayangan hanyalah sebuah ekspektasi kita tentang apa yang kita akan bayangkan.


Perjalanan terus berlanjut. Hingga tibalah aku di stasiun. JOGJA. Rasa penat tak bisa ku tahan. Aku buru-buru keluar. Ini pertama kalinya aku ke Jogja. Jadi Papaku memutuskan mengirim anak temannya untuk menjemputku. Aku tidak tau rupanya seperti apa. Yang jelas pasti dia orang baik. Dia yang akan mengantarku ke hotel yang sudah sengaja di pesan dari Jakarta oleh Papa.


Aku duduk menunggu.


"Kau sedang menunggu apa anak muda?" Tanya seorang Nenek yang aku taksir berusia 60tahun itu. Beliau duduk di sampingku.


Aku mengerutkan keningku. Apa maksud pertanyaan nenek itu? Kenapa yang ditanyakan apa? Bukan siapa?


"Oh. Maafkan orang tua ini karena sudah membuatku bingung nak. Kekekkek" beliau terkekeh, lalu melanjutkan lagi. "Maksudku, kau sedang menanti siapa?" Tanyanya.


Aku mengangguk. Rupanya aku terlalu banyak membaca novel sehingga aku berfikir nenek-nenek yang berasa disampingku ini adaah nenek-nenek ajaib yang penuh dengan kisah seperti di dalam novel yang pernah ku baca. Tapi ternyata nenek hanya salah memilih kata dalam bertanya.


"Aku.." aku sendiri bingung sendiri mau menjawab apa. Karena aku tidak tau siapa nama seseorang yang akan menjemputku.


"Apa kau sedang menanti kekasihmu datang untuk menjemputmu?" Tanya Nenek dengan gaya sedikit menggoda.
Aku tersipu malu. Ntah mengapa. Dan buru-buru ku jelaskan agar nenek tidak salah faham.


"Sebenarnya aku sedang menanti teman ayahku nek, bukan menanti kekasihku. Sungguh aku tidak memiliki kekasih." jawabku dengan jujur.


Menjengar jawabanku nenek terkekeh lagi.

"Kau sudah tau rupa anak teman Papamu itu?" Tanya nenek lagi. Menggeleng. Nenek tersenyum. "Bagaimana kalau anak papamu itu adalah seseorang yang kau nanti sejak lama?" Tanya nenek lagi.


Kali ini giliran aku yang terkekeh. "Tidak ada keajaiban seperti itu nek." Kataku.


"Dari kalimatmu kau terdengar masih sangat menantinya nak." Kata nenek. Aku terdiam.


"Tidak nenek. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menantinya. Lagipula dia tidak pernah menjanjikan pertemuan, aku saja yang bodoh menantinya." Kataku sambil tersenyum miris.


"Aku tebak kau tak percaya keajaiban karena keajaiban yang kau tunggu tak pernah datang menghampirimu?" Tanya nenek dengan hati-hati.


"Ntahlah nek." Kataku. Aku benar-benar tak tau harus menjawab apa.


"Keajaiban itu ada nak. Ingatlah semuanya sudah ada yang mengaturnya. Dan keajaiban milikmu itu aku yakin, kau akan segera mendapatkannya." Kata nenek itu lagi.


"Semoga saja nek." Kataku.


Tiba-tiba seorang remaja cantik menghampiri kami. Lebih tepatnya dia menghampiri nenek.


"Nenek ayo kita pulang." Kata remaja itu.


"Baiklah. Baiklah sayang. Mari kita pulang." Nenek berdiri lalu menoleh kearahku.


"Maaf nak, aku harus segera pergi. Sebelum aku pergi, izinkanlah wanita tua ini memberikan pesan kepadamu.


Apapun yang akan terjadi selepas kau pergi dari sini, itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan bisa di jangkau oleh otak manusia. Percayalah akan ada balasan untuk para pemilik hati yang sabar. Sampai jumpa lagi!" Pesannya. Sambil melambaikan tangan.


Aku mengangguk, "Terimakasih nek. Sampai jumpa lagi." Kataku sambil membalas lambaian tangan nenek.


Aku menghela nafas. Kini aku sendiri lagi. Keajaiban? Rasanya penantianku sudah melunturkanku akan sebuah keajaiban.

Aku hanya bisa mengangkat bahu. Lalu memasang headaet di telinga kananku.


"Sorry, apa kau yang bernama Kirana?" Suara seseorang menghentikan aktivitasku.
Aku buru-buru menoleh.


DEG!


"Kiran?"


"Ka Gara?"


*TAMAT*