Kini aku hanya bisa
menatap sebuah bingkai foto yang pernah ku dapatkan saat kau Ujian dulu.
Dulu aku adalah adik kelasmu. Adik kelasmu yang sering menyusahkanmu.
Adik kelasmu yang sering kau usili dulu. Adik kelasmu yang diam-diam
jatuh cinta padamu.
Mungkin kau bingung.
Kenapa setiap selesai ujian dulu fotomu yang terpajang rapih di dinding
pintu bersama foto-foto teman sekelasmu hilang begitu saja. Aku hanya
bisa tersenyum kecut. Jujur, semua itu ulahku. Aku yang tak pernah
berani menatapmu atau hanya sekedar mengajak berfoto bersama. Karena
itulah satu-satunya hal yang menurutku masuk akal dulu hanyalah mancuri
setiap foto-fotomu selepas ujian.
Aku mengusap bingkai
foto itu. Di sana kegilaanku mencintainya begitu terlihat. Coba
bayangkan saja siapa orang yang mau repot-repot mencuri foto kaka kelas
yang sedang ujian. Mencuri semua foto kakak kelasmu itu. Padahal kamu
tau. Kamu faham. Kalau semua fotonya sama. Dengan background yang sama berwarna putih, tatanan rambut yang sama, wajah yang sama, tatanan dasi yang sama, dan senyum manisnya yang sama.
Aku mulai menutup
bingkai itu seraya menutup pintu hatiku. Aku tak mau lagi menanti.
Karena apalah arti menanti ketika diri kita sendiri bingung apa yang
sedang di nanti. Coba katakan padaku apa yang selama ini ku nanti?
Apakah aku menantikan senyumannya? Apakah aku menantikan kejahilannya?
Apa aku menantikan kedatangannya? Atau itu semua? Tapi sebenarnya apa
yang aku nantikan? Dia tak pernah menjanjikan sesuatu pertemuan padaku,
tapi kenapa aku tetap menanti? Inilah mengapa aku bertanya apa yang
sedang ku nanti.
Kereta Jakarta-Jogjaku
datang. Aku memang sudah memutuskan. Melupakan semuanya. Setidaknya
kalau aku tidak bisa benar-benar melupakannya, mungkin aku bisa
meninabobokan kenangan itu sampai aku benar-benar menemukan masa depanku
yang akan membuat kenangan-kenangan indah tentang kebersamaan, bukan
sebuah penantian. Impianku sederhana bukan? Tapi mengapa dalam realita
tak sesederhana itu?
Aku mulai mencari tempat
dudukku. Tak begitu sulit bagiku untuk menemukannya. Karena percaya
atau tidak menemukan kursi kereta jauh lebih mudah dibanding menemukan
apa kemauanmu. Klise memang tapi itulah yang aku rasa. Aku buru-buru
duduk di bangku itu.
Ini kali pertama aku
pergi sendirian. Apalagi ke kota pendidikan itu. Mungkin ini jarak
terjauh yang pernah aku tempuh sendirian. Keluargaku melepaskanku pergi
demi kemandirianku yang ku janjikan kepada mereka. Walaupun rasa takut
memang ada di dalam sana tapi tetap saja apa gunanya rasa takut, ketika
kau bisa lebih menemukan sesuatu yang baru ketika kau menyingkirkan rasa
itu.
Kata orang perjalananku
akan memakan waktu sekitar 7jam. Sekarang baru beberapa menit dan
rasanya mulai bosan.
Ternyata bepergian sendirian itu memang
membosankan. Tak ada teman ngobrol dan tak ada yang bisa mengurangi
kebosananmu. Aku buru-buru mengambil headset lalu memasangnya,
dan mengalunlah lagu kesukaanku sebuah lagu dari Sheila On 7. Kita.
Empat kata penuh pengharapan, penantian dan perpisahan.
Layar ponselku masih menggunakan wallpaper fotonya yang ku potret secara diam-diam saat dia sedang bermain bola volly disana. Unik. Olahraga kesukaannya adalah bola volly lain dari kebanyakan laki-laku seusianya yang lebih menyukai permainan sepak bola.
Dan hap! Rasa itu kembali lagi.
Terus seperti itu. Aku
terus dirundung sebuah rasa rindu yang mungkin hanya milikku. Tak bisa
ku pastikan dan aangat sulit untuk aku bayangkan. Karena sebuah bayangan
tidak pernah sama dengan kenyataan. Bayangan hanyalah sebuah ekspektasi
kita tentang apa yang kita akan bayangkan.
Perjalanan terus
berlanjut. Hingga tibalah aku di stasiun. JOGJA. Rasa penat tak bisa ku
tahan. Aku buru-buru keluar. Ini pertama kalinya aku ke Jogja. Jadi
Papaku memutuskan mengirim anak temannya untuk menjemputku. Aku tidak
tau rupanya seperti apa. Yang jelas pasti dia orang baik. Dia yang akan
mengantarku ke hotel yang sudah sengaja di pesan dari Jakarta oleh Papa.
Aku duduk menunggu.
"Kau sedang menunggu apa anak muda?" Tanya seorang Nenek yang aku taksir berusia 60tahun itu. Beliau duduk di sampingku.
Aku mengerutkan keningku. Apa maksud pertanyaan nenek itu? Kenapa yang ditanyakan apa? Bukan siapa?
"Oh. Maafkan orang tua
ini karena sudah membuatku bingung nak. Kekekkek" beliau terkekeh, lalu
melanjutkan lagi. "Maksudku, kau sedang menanti siapa?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Rupanya
aku terlalu banyak membaca novel sehingga aku berfikir nenek-nenek yang
berasa disampingku ini adaah nenek-nenek ajaib yang penuh dengan kisah
seperti di dalam novel yang pernah ku baca. Tapi ternyata nenek hanya
salah memilih kata dalam bertanya.
"Aku.." aku sendiri bingung sendiri mau menjawab apa. Karena aku tidak tau siapa nama seseorang yang akan menjemputku.
"Apa kau sedang menanti kekasihmu datang untuk menjemputmu?" Tanya Nenek dengan gaya sedikit menggoda.
Aku tersipu malu. Ntah
mengapa. Dan buru-buru ku jelaskan agar nenek tidak salah faham.
"Sebenarnya aku sedang menanti teman ayahku nek, bukan menanti
kekasihku. Sungguh aku tidak memiliki kekasih." jawabku dengan jujur.
Menjengar jawabanku
nenek terkekeh lagi.
"Kau sudah tau rupa anak teman Papamu itu?" Tanya
nenek lagi. Menggeleng. Nenek tersenyum. "Bagaimana kalau anak papamu
itu adalah seseorang yang kau nanti sejak lama?" Tanya nenek lagi.
Kali ini giliran aku yang terkekeh. "Tidak ada keajaiban seperti itu nek." Kataku.
"Dari kalimatmu kau terdengar masih sangat menantinya nak." Kata nenek. Aku terdiam.
"Tidak nenek. Aku sudah
memutuskan untuk tidak lagi menantinya. Lagipula dia tidak pernah
menjanjikan pertemuan, aku saja yang bodoh menantinya." Kataku sambil
tersenyum miris.
"Aku tebak kau tak
percaya keajaiban karena keajaiban yang kau tunggu tak pernah datang
menghampirimu?" Tanya nenek dengan hati-hati.
"Ntahlah nek." Kataku. Aku benar-benar tak tau harus menjawab apa.
"Keajaiban itu ada nak.
Ingatlah semuanya sudah ada yang mengaturnya. Dan keajaiban milikmu itu
aku yakin, kau akan segera mendapatkannya." Kata nenek itu lagi.
"Semoga saja nek." Kataku.
Tiba-tiba seorang remaja cantik menghampiri kami. Lebih tepatnya dia menghampiri nenek.
"Nenek ayo kita pulang." Kata remaja itu.
"Baiklah. Baiklah
sayang. Mari kita pulang." Nenek berdiri lalu menoleh kearahku.
"Maaf
nak, aku harus segera pergi. Sebelum aku pergi, izinkanlah wanita tua
ini memberikan pesan kepadamu.
Apapun yang akan terjadi selepas kau
pergi dari sini, itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan bisa di
jangkau oleh otak manusia. Percayalah akan ada balasan untuk para
pemilik hati yang sabar. Sampai jumpa lagi!" Pesannya. Sambil
melambaikan tangan.
Aku mengangguk, "Terimakasih nek. Sampai jumpa lagi." Kataku sambil membalas lambaian tangan nenek.
Aku menghela nafas. Kini
aku sendiri lagi. Keajaiban? Rasanya penantianku sudah melunturkanku
akan sebuah keajaiban.
Aku hanya bisa mengangkat bahu. Lalu memasang headaet di telinga kananku.
"Sorry, apa kau yang bernama Kirana?" Suara seseorang menghentikan aktivitasku.
Aku buru-buru menoleh.
DEG!
"Kiran?"
"Ka Gara?"
*TAMAT*