Jumat, 27 Januari 2017
Kangen.
Hai, pakabar?
"Gue mau cerita. Gue bingung banget. Gue nggak kuat. Gue ngerasa dunia mulai kejam banget sama gue. Dunia nggak mau lagi ngasih gue kemujuran hidup kayak yang sebelum-sebelumnya. Gue kangen ketawa lepas kayak dulu, gue kangen dimanja kayak dulu, gue kangen dijadiin ratu kecil kayak dulu. Demi apapun gue kangen banget ._.
Yang gue rasain sekarang itu hidup gue berubah total. Ternyata hidup benar-benar kayak roda ya, terus berputar kadang diatas kadang di bawah. Dan inilah titik dimana gue benar-benar ada di bawah. Semua orang berubah. Dan gue dengan kepolosan plus kebodohan gue, gue nggak bisa menyeimbangkan antara semuanya. Semuanya terlalu cepat untuk gue. Gue masih kayak anak kecil yang cuman bisa bilang kangen pas semua masalah mampir ke hidup gue.
Gue mulai menemukan orang-orang baru. Dimana sifat-sifat merekapun baru. Dan lagi-lagi gue nggak bisa menyesuaikan diri. Fikiran kita nggak pernah nyatu. Mereka dengan keegoisannya sendiri dan gue dengan ketidakberdayaan menunggu keajaiban merubah mereka datang. Gue pernah mengatakan kalau gue memang nggak sama dengan mereka. Fikiran gue masih kerdil, masih seperti anak-anak ketika kalian bisa menertawakan masalah orang lain. Gue hanya bisa memandang sedih. Ternyata orang dewasa suka menertawakan kesulitan temannya. Egois. Dan seharusnya guepun melakukan hal serupa. Namun gue masih anak kecil yang tidak bisa egois mementingkan diri sendiri.
Gue butuh teman. Gue butuh seseorang yang bersedia menjadi tempat keluh kesah gue selain sajadah si perantara pengaduan gue denganNya. Kadang disaat-saat seperti ini rasanya gue ingin sekali mendesak seseorang yang pernah mengatakan, "tenang pi, ntar di sini kita juga ngasih kebahagiaan kok ke elu." ternyata kebahagiaannya sepotek-sepotek, tidak utuh yang utuh justru konfliknya. Dan gue merasa jadi korban sekaligus tersangka diwaktu yang bersamaan.
Gue kadang suka berfikiran, kalo gue itu anak durhaka semakin kesini. Orang tua gue udah cape-cape nyariin duit buat gue. Tapi yang gue lakuin malah membohongi mereka. Walau maksud tujuannya itu baik. Namun tetap aja. Gue yang nggak pernah boong jadi tulang boong ulung. Gue cape. Gue cape boong terus tapi kalo nggak boong juga gimana? Tanggung jawab gue dimana? Amanah yang di kasih kegue juga bawa-bawa akhirat, guenya jadi takut sendiri. Tapi nggak ada yang ngertiin gue. Gue udah bela-belain sering boong ke orang tua gue. Gue biarin orang tua gue nggak ada yang bantuin di warung, tapi balesannya ke gue malah begini. Kadang kalo mengumpat itu dibolehin etika dan agama gue bakalan teriak. "Ee Kucing!" tapi gue sadar gue orang berpendidikan yang tau kalo kata2 kasar itu nggak boleh diucapin karena dapat menyebabkan sakit hati buat yang denger.
Gue bingung. Disatu sisi keluarga gue ada masalah disisi lain di kampus gua juga punya kewajiban. Gue salah. Iya gue salah mulu. Gue cape tapi nggak ada timbal baliknya. gue cape berjuang sendirian. terlebih orang yang paling deket sama gue malah ninggalin gue gitu aja. Gue kangen tante gue. Gue selalu kangen saat-saat tante gue ngajak gue pergi jalan-jalan, gue selalu kangen saat-saat gue dimanjain tante gue, gue selalu kangen disuruh makan sama tante gue, gue kangen di tawarin makanan setiap gue sakit, gue selalu kangen disuapin tante gue setiap gue nggak mau makan, gue selalu kangen tante gue yang nggak bolehin gue megang cucian karena takut tangan gue kasar, gue kangen tante gue yang selalu ngebelain gue setiap gue dimarahin, gue kangen tante gue yang selalu memberikan kupingnya utuh untuk mendengar cerita-cerita gue, gue kangen denger suara tante gue yang lagi nyanyi lagu nike ardila, gue kangen meluk tante gue, gue kangen cium tante gue, gue kangen..
Semakin kesini gue semakin ngerasa kalo gue lagi dipermainkan takdir. Gue yang nggak pernah nangis jadi gue yang selalu nangis. Gue belum siap jadi dewasa. Gue belom siap nyuci, ngepel, nyapu, beresin rumah, jagain warung, beli ini beli itu dan denger kata-kata kasar. Gue masih ngerasa kecil. Gue sadar cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Namun aku hanya memohon jangan di percepat. Gue nggak siap. Kalaupun harus. Tolong kirimkan sosok tante gue biar gue bisa tegar. Gue rapuh. Kadang gue setiap liat pisau udah mikir yang nggak-nggak. Rasanya gue mau ambil dan ngelakuin hal terbodoh dan tak beragama itu.
Gue aneh ya?
Ya emang itu kenyataannya. Ah gue sedih. Gue bodoh ya?"
-Dari dia yang paling keras tertawanya.-
Sabtu, 07 Januari 2017
Duo X
Duo X
Siang itu:
Aku merasa Tuhan sedang menghukum seseorang lewat teriknya matahari yang terus mengekang tubuh kami hingga dahaga terus menumor di tenggorokan kami.
Siang itu:
Antrean bus wisata semakin memanjang. Manusia dari berupa-rupa umur mengantre dengan takzim di sebuah bahu jalan yang sudah di sulap menjadi tempat antrean bus wisata dengan pembatas buatan yang terlihat asal-asalan.
Siang itu:
Teriknya matahari menarikku tuk menengok ke kanan dan ke kiri mencari setitik keindahan yang tersisa di kota Jakarta selain kemacetan yang sudah hampir meng-icon. Tak percaya? Sebut kata macet maka ku tebak Jakartalah yang pertama kau bayangkan.
Siang itu:
Orang-orang mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang sibuk berkutat dengan barang dagangannya, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang subuk mengibaskan kerah baju kegerahan, ada yang sibuk mengantre panjang, hingga ada yang sibuk berpacaran.
Siang itu:
Matahari semakin mengatas ubun-ubun hingga panasnya benar-benar menderaskan peluh di dahi dan dibeberapa angkota tubuh lainnya. Hingga rasanya ingin ku teriakkan seluruh manusia agar tobat hingga azab tak benar-benar datang menjemput.
Siang itu:
Aku mulai mengetahui sesuatu. Sesuatu untuk pertama kalinya aku lihat dalam kurun waktu 18 tahun 11hari. Yang mengolok diriku sendiri menyadari kepolosanku dalam melihat kehidupan luar. Rupanya aku benar-benar katak yang terkurung dalam tempat korek api yang sempit.
Siang itu:
Debu jalanan mulai bersekongkol dengan matahari. Aku melihat di depanku ada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan dengan mesra. Awalnya biasa saja, namun setelah salah satu darinya berpaling. Aku terkejut. Ini tidak benar.
Siang itu:
Matahari mengajarkanku. Tanda-tanda keanehan dunia sudah bermunculan. Dan teriknya siang itu menunjukkan salah satu penyimpangan penabur tanda kiamat sudah dekat. Dan itulah mereka contohnya. Dengan pakaian yang sama, perawakan yang sama, jenis kelamin yang sama saling menautkan jari dengan mesra sepanjang jalan hingga antrean bus pariwisata.
Selasa, 03 Januari 2017
Kepada Malam Aku Mengumpat
Kepada Malam Aku Mengumpat
Sebuah pukulan muslihat,
mengena jantung atma
melumat apa saja menghancurkan caya
aku mengenalnya nestapa, namun ntah engkau bagaimana.
sekali lagi.
bentuk tak terlihat
namun cukup untuk menusuk ulu hati:
pada intinya.
tidak lagi pada kulitnya: yang mudah di jahit/
akulah sipenghujat malam.
dengan beban menggunung di punggung
aku menyelam.
mengarungi derasnya waktu melimbung
tak tentu arah.
namun sejarah terlanjur melukis perih.
menawarkan benci dan dengki berdalih.
wahai malam, aku ingin tau kenapa kau pilih kasih?
aku bukan siapapun memang.
namun apapun membuatku nyeri.
begitu gamang.
hingga rasanya aku ingin mati
Sebuah pukulan muslihat,
mengena jantung atma
melumat apa saja menghancurkan caya
aku mengenalnya nestapa, namun ntah engkau bagaimana.
sekali lagi.
bentuk tak terlihat
namun cukup untuk menusuk ulu hati:
pada intinya.
tidak lagi pada kulitnya: yang mudah di jahit/
akulah sipenghujat malam.
dengan beban menggunung di punggung
aku menyelam.
mengarungi derasnya waktu melimbung
tak tentu arah.
namun sejarah terlanjur melukis perih.
menawarkan benci dan dengki berdalih.
wahai malam, aku ingin tau kenapa kau pilih kasih?
aku bukan siapapun memang.
namun apapun membuatku nyeri.
begitu gamang.
hingga rasanya aku ingin mati
Langganan:
Komentar (Atom)
