Kamis, 24 Agustus 2017

Renungan

Renungan

“Kuliah dimana? Sudah semester berapa?”
“Kuliah di ... (Univ. Swasta di Jakarta). Semester 5”
“Persemesternya berapa?”
“8juta.”
“Wah mahal banget ya, belajar apa aja di kampus?”
“Ngggg.. (Tidak bisa menjawab)”
            Pernahkah kalian mengalami hal serupa? Kalau ya, apa yang kamu rasakan? Malu kah? Kalau malu, selanjutnya apa?
            Mari kita renungkan, dengan mengambil kasus diatas. Ia sudah berada di semester 5, berarti ia telah mengeluarkan uang sejumlah Rp. 8.000.000 x 5 = Rp. 40.000.000. Wow! Angka yang cukup fantastis bukan? Sebegitu banyaknya uang yang telah dikeluarkan tidak membuat ia menjadi manusia pintar lantaran kita malas belajar. Yang penting datang, duduk manis dikelas, mendengarkan penjelasan dosen tidak, bahkan parahnya lagi mengerjakan tugas dengan membayar orang.
Astaghfirullah.
            Sebagai mahasiswa seharusnya kita harus lebih rajin belajar karena ilmu yang kita dapat akan kita pakai dihari esok. Fikirkanlah berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai mu. Kalaupun kau seorang anak orang kaya, namun siapa yang berani menjamin kau akan terus kaya?
            Belajar itu tak ada batasan. Bahkan kita telah di perintahkan melalui salah satu hadis shahih mengenai menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah wajib dan bahkan ada perintah mengenai menuntuty ilmu dari buaian sampai keliang lahat. Dari contoh dua hadis shahih tersebut dapatlah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan itu sangat penting. Bisa dikatakan bahwa lentera kehidupan adalah ilmu pengetahuan.
            Cobalah sekarang tanyakan pada diri kita apa yang kita mau. Jangan sampai lelahmu pergi ke kampus tidak membuahkan hasil apa-apa. karena sayang sekali kalau kau yang bisa kuliah dengan mudah masih suka menyia-nyiakan kesempatan. Padahal diluaran sana masih banyak orang-orang yang berangan-angan ingin kuliah namun tidak terlaksana karena keterbatasan.
            Marilah. Kita cukup kenang apa yang kita lakukan kemarin sebagai bahan renungan untuk kau lebih giat belajar lagi. manfaatkan  lah waktu yang kita miliki untuk mencari ilmu. Carilah passion-mu. Sungguh ketika kau sudah tau apa yang kau mau, kau akan lebih mudah dalam belajar.
            Tanyakanlah apa yang membuatmu malas belajar. Kalauhanya karena dosenmu jarang masuk atau tidak jelas dalam menerangkan cobalah cari materinya dari sumber-sumber lain, bisa dari internet, buku dan temanmu yang ada di kelas lain. Kau mahasiswa. Bukan saatnya lagi kau harus disuapi. Kau harus mulai belajar makan dengan tanganmu sendiri.
            Kalau alasanmu malas belajar karena kau merasa tak cocok dengan jurusan yang kau ambil, coba tanyakan pada dirimu sendiri. Apa yang kau mau? Apakah yang kau geluti benar passion-mu atau tidak? Kalau tidak, segeralah cari apa yang kau mau. Kalau kau bingung cobalah mula-mula kau tanya pada dirimu sendiri apa cita-citamu. Kalau cita-citamu banyak cobalah analisis apakah kau bisa melakukan itu, Contoh: Cita-citamu ingin menjadi guru, desainer dan pengusaha. Cobalah kau tengok dirimu sendiri. Kalau perlu tulis dikertas, pada cita-citamu menjadi seorang guru coba tengok apakah kau suka belajar dan mengajari orang dsb, pada cita-citamu sebagai desainer coba tengok apakah kau punya keahlian dalam menggambar atau memiliki selera desain yang bagus dsb dan pada cita-citamu menjadi pengusaha tanyakan apakah kau suka berjualan, memiliki ide kreatif dalam menciptakan produk dsb. Lalu selanjutnya kau bisa lihat sendiri dimana kemampuanmu sesungguhnya.

            Semoga dengan begitu kita tidak lagi malas dalam belajar, tak ada alasan untuk malas. Karena malas merupakan cikal bakal kebodohan. Dan semoga kita bisa terhindar dari sifat tidak terpuji tersebut. Yuk, perbaiki diri jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. 

Bercanda

Bercanda

            Bercanda adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menghibur, bercanda ini bisa dalam bentuk mengolok-olok, mengejek atau bertingkah lucu namun tidak serius yang bertujuan untuk menghibur hati. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam bercanda. Bercanda juga sangat diperlukan oleh tubuh untuk mengurangi stress. Biasanya orang yang suka bercanda lebih ceria dibanding orang yang serius.
            Meskipun sifatnya menghibur, namun acap kali sering penulis jumpai di kehidupan nyata bahwa beberapa bahan guyonan tidak lagi memberikan sifat menghibur dan parahnya bagi yang tidak bisa mengontrol bahan bercandanya akan mengakibatkan orang yang dibercandai akan merasa sakit hati. Dan tentu fenomena ini melenceng dari definisi bercanda yang seharusnya menghibur untuk semuanya.
            Cara bercanda setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka bercanda dengan tangannya yang usil, ada yang bercanda dengan mengolok-olok kekurangan temannya, hingga ada yang bercanda dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dari perbedaan itulah biasanya ada faktor yang menyebabkan bahan candaan kita bisa menjadi tidak lucu sama sekali.
            Ternyata bercanda bisa untuk mengukur sejauhmana pengetahuan seseorang akan sesuatu. Contohnya ketika kita menjumpai orang-orang berpendidikan tentunya cara dan bahan bercanda mereka tidak sama dengan orang-orang tak berpendidikan. Orang yang berpendidikan biasanya bercanda sesuai ilmunya masing-masing, dari sanalah kita bisa melihat siapa ia sebenarnya.
            Ketika kita sedang bercanda dengan teman kita seharusnya kita melakukan hal-hal berikut: Pilihlah bahan yang menarik, gunakan bahan yang teman bercandamu tahu akan bercandaanmu itu sehingga bercandaanmu lucu, gunakan kata-kata yang tidak menyakiti temanmu, kalau dirasa raut muka salah satu temanmu kesal akan leluconmu hendaklah meminta maaf dan katakan bahwa kau hanya bercanda, dan pilihlah situasi yang tepat untuk bercanda.
            Jika mengikuti intrupsi diatas insyaAllah kita akan merasakan kenikamatan bercanda yang istimewa, yang tidak menyakiti hati orang lain, bisa menghilangkan beban fikiran kita dan dirinya, dan hidup akan semakin berwarna. Tapi ingat, jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

            Semoga bermanfaat, dan untuk kesekian kalinya penulis mengucapkan mohon maaf apabila dalam penulisan diatas terdapat kekurangan-kekurangan. Mari sama-sama belajar, karena kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk perbaikan kedepannya.

Make Up

Make Up

            Ketika kita berbicara mengenai make up kita pasti tidak bisa lepas dari perempuan. Make up atau merias diri memang merupakan bagian kebiasaan yang dilakukan perempuan agar semakin cantik dan sedap dipandang. Setiap perempuan memiliki seleranya masing-masing dalam memilih alat make up. Contoh sederhanya bisa kita lihat ketika kita menjumpai toko make up atau supermarket terdekat yang menjual alat-alat make up. Kita ambil salah satu contoh, coba perhatikan lipstik disana yang bertengger dengan warna berbeda-beda bahkan memiliki nomor-nomor warna yang sudah dihafal oleh perempuan. Dan perbedaan itu merupakan bukti nyata bahwa pemilihan alat make up setiap perempuanpun berbeda.
            Perempuan pada kodratnya memang suka berdandan, suka menghabiskan waktunya di depan cermin, mematut dirinya, memoles wajahnya dengan bedak, lipstik dan lain sebagainya. Sebagai perempuan sayapun demikian. Walau saya tidak mahir dalam urusan dandan, namun tak saya pungkiri bahwa sayapun ingin terlihat cantik dan fresh ketika dilihat oleh orang-orang disekitar saya. Jadi setiap hari saya menggunakan alat make up  sekadarnya agar tidak terlihat mencolok dan tidak mengundang.
            Islam menyukai hal-hal yang indah. Maka dari itu kita sebagai perempuan dianjurkan untuk terus merawat diri dengan sebaik-baiknya, karena tubuh kita merupakan pemberian dari Allah SWT yang patut kita jaga baik-baik dengan cara yang baik pula. Namun merawat diri sesuka hati bukan berarti memperbolehkan kita untuk merubah bentuk tubuh kita. Salah satu contohnya adalah menyulam alis.
            Memakai make up boleh-boleh saja asal tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik. “Lho kak, aku anak tari ka, jadi setiap pentas harus pakai make up tebal. Apa itu tidak boleh?” dulu saat masih duduk di bangku SMA saya pernah menanyakan hal serupa  kepada guru agama saya, Ibu Lisnawati namanya. Beliau mengatakan bahwa dalam kasus diatas dan kasus-kasus serupa boleh saja asalkan tidak menggunakannya setiap hari.
            Salah satu alasan dilarangnya menggunakan make up sebetulnya adalah ditakutkan akan menimbulkan syahwat. Ketika kita berdandan berlebihan dihadapan laki-laki dan laki-laki itu tak bisa menjaga pandangannya. Apa yang akan terjadi? Dan bolehkah kita berdandan sebegitu cantiknya dihadapan laki-laki yang bukan mahram kita? Ketika kita bersolek, coba fikirkan, untuk siapa kita bersolek? Tidakkah kita berdosa jika bersolek agar bisa dilihat dia yang buka mahram kita?
            Dalam hal berdandan menurut saya sah-sah saja selama masih diambang kewajaran. Kita bisa menggunakan bedak sekadarnya agar wajah kita tidak kusam dan bisa memakai lipstik yang bisa membantu bibir kita agar tidak kering dan berwarna netral tidak terlalu merah seperti habis makan bayi (Ini istilah anak-anak remaja yang biasa mengejek temannya yang berlipstik merah menyala dengan kata: Seperti habis makan orok (Baca: Bayi)). Dan tentunya dengan niat bahwa kita merias diri untuk merawat tubuh dan agar terlihat rapih bukan agar bisa dilihat oleh laki-laki yang bukan mahram kita.
            Jadi teman-teman yang masih suka berhias diri demi dilirik dia, coba direnungkan ya. Saya bukan orang yang sudah baik perangainya, namun marilah kita sama-sama melakukan yang terbaik dari hal-hal kecil. Semoga yang sebelumnya rela berjam-jam di depan cermin poles sana sini agar dia yang bukan mahram kita bisa melirik bahkan mencintai kita, segera memperbaiki niatnya dan dandanannya. Bantulah ia para lelaki untuk menjaga pandangannya juga.

            Akhirnya, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dan salah baik dari isi maupun yang lainnya mohon dimaklumkan dan mohon kiranya berkenan untuk memberikan kritik dan saran yang membangun agar dilain kesempatan penulis bisa memperbaiki kesalahannya.