Make Up
Ketika
kita berbicara mengenai make up kita
pasti tidak bisa lepas dari perempuan. Make
up atau merias diri memang merupakan bagian kebiasaan yang dilakukan
perempuan agar semakin cantik dan sedap dipandang. Setiap perempuan memiliki
seleranya masing-masing dalam memilih alat make
up. Contoh sederhanya bisa kita lihat ketika kita menjumpai toko make up atau supermarket terdekat yang
menjual alat-alat make up. Kita ambil
salah satu contoh, coba perhatikan lipstik disana yang bertengger dengan warna
berbeda-beda bahkan memiliki nomor-nomor warna yang sudah dihafal oleh
perempuan. Dan perbedaan itu merupakan bukti nyata bahwa pemilihan alat make up setiap perempuanpun berbeda.
Perempuan
pada kodratnya memang suka berdandan, suka menghabiskan waktunya di depan
cermin, mematut dirinya, memoles wajahnya dengan bedak, lipstik dan lain
sebagainya. Sebagai perempuan sayapun demikian. Walau saya tidak mahir dalam
urusan dandan, namun tak saya pungkiri bahwa sayapun ingin terlihat cantik dan fresh ketika dilihat oleh orang-orang
disekitar saya. Jadi setiap hari saya menggunakan alat make up sekadarnya agar
tidak terlihat mencolok dan tidak mengundang.
Islam
menyukai hal-hal yang indah. Maka dari itu kita sebagai perempuan dianjurkan
untuk terus merawat diri dengan sebaik-baiknya, karena tubuh kita merupakan
pemberian dari Allah SWT yang patut kita jaga baik-baik dengan cara yang baik
pula. Namun merawat diri sesuka hati bukan berarti memperbolehkan kita untuk
merubah bentuk tubuh kita. Salah satu contohnya adalah menyulam alis.
Memakai
make up boleh-boleh saja asal tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebih-lebihan
itu tidak baik. “Lho kak, aku anak tari ka, jadi setiap pentas harus pakai make
up tebal. Apa itu tidak boleh?” dulu saat masih duduk di bangku SMA saya pernah
menanyakan hal serupa kepada guru agama
saya, Ibu Lisnawati namanya. Beliau mengatakan bahwa dalam kasus diatas dan
kasus-kasus serupa boleh saja asalkan tidak menggunakannya setiap hari.
Salah
satu alasan dilarangnya menggunakan make
up sebetulnya adalah ditakutkan akan menimbulkan syahwat. Ketika kita
berdandan berlebihan dihadapan laki-laki dan laki-laki itu tak bisa menjaga
pandangannya. Apa yang akan terjadi? Dan bolehkah kita berdandan sebegitu
cantiknya dihadapan laki-laki yang bukan mahram kita? Ketika kita bersolek,
coba fikirkan, untuk siapa kita bersolek? Tidakkah kita berdosa jika bersolek
agar bisa dilihat dia yang buka mahram kita?
Dalam
hal berdandan menurut saya sah-sah saja selama masih diambang kewajaran. Kita
bisa menggunakan bedak sekadarnya agar wajah kita tidak kusam dan bisa memakai
lipstik yang bisa membantu bibir kita agar tidak kering dan berwarna netral
tidak terlalu merah seperti habis makan bayi (Ini istilah anak-anak remaja yang
biasa mengejek temannya yang berlipstik merah menyala dengan kata: Seperti
habis makan orok (Baca: Bayi)). Dan tentunya dengan niat bahwa kita merias diri
untuk merawat tubuh dan agar terlihat rapih bukan agar bisa dilihat oleh
laki-laki yang bukan mahram kita.
Jadi
teman-teman yang masih suka berhias diri demi dilirik dia, coba direnungkan ya.
Saya bukan orang yang sudah baik perangainya, namun marilah kita sama-sama
melakukan yang terbaik dari hal-hal kecil. Semoga yang sebelumnya rela
berjam-jam di depan cermin poles sana sini agar dia yang bukan mahram kita bisa
melirik bahkan mencintai kita, segera memperbaiki niatnya dan dandanannya.
Bantulah ia para lelaki untuk menjaga pandangannya juga.
Akhirnya,
kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dan salah baik dari isi maupun yang
lainnya mohon dimaklumkan dan mohon kiranya berkenan untuk memberikan kritik
dan saran yang membangun agar dilain kesempatan penulis bisa memperbaiki
kesalahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar