Kamis, 24 Agustus 2017

Make Up

Make Up

            Ketika kita berbicara mengenai make up kita pasti tidak bisa lepas dari perempuan. Make up atau merias diri memang merupakan bagian kebiasaan yang dilakukan perempuan agar semakin cantik dan sedap dipandang. Setiap perempuan memiliki seleranya masing-masing dalam memilih alat make up. Contoh sederhanya bisa kita lihat ketika kita menjumpai toko make up atau supermarket terdekat yang menjual alat-alat make up. Kita ambil salah satu contoh, coba perhatikan lipstik disana yang bertengger dengan warna berbeda-beda bahkan memiliki nomor-nomor warna yang sudah dihafal oleh perempuan. Dan perbedaan itu merupakan bukti nyata bahwa pemilihan alat make up setiap perempuanpun berbeda.
            Perempuan pada kodratnya memang suka berdandan, suka menghabiskan waktunya di depan cermin, mematut dirinya, memoles wajahnya dengan bedak, lipstik dan lain sebagainya. Sebagai perempuan sayapun demikian. Walau saya tidak mahir dalam urusan dandan, namun tak saya pungkiri bahwa sayapun ingin terlihat cantik dan fresh ketika dilihat oleh orang-orang disekitar saya. Jadi setiap hari saya menggunakan alat make up  sekadarnya agar tidak terlihat mencolok dan tidak mengundang.
            Islam menyukai hal-hal yang indah. Maka dari itu kita sebagai perempuan dianjurkan untuk terus merawat diri dengan sebaik-baiknya, karena tubuh kita merupakan pemberian dari Allah SWT yang patut kita jaga baik-baik dengan cara yang baik pula. Namun merawat diri sesuka hati bukan berarti memperbolehkan kita untuk merubah bentuk tubuh kita. Salah satu contohnya adalah menyulam alis.
            Memakai make up boleh-boleh saja asal tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak baik. “Lho kak, aku anak tari ka, jadi setiap pentas harus pakai make up tebal. Apa itu tidak boleh?” dulu saat masih duduk di bangku SMA saya pernah menanyakan hal serupa  kepada guru agama saya, Ibu Lisnawati namanya. Beliau mengatakan bahwa dalam kasus diatas dan kasus-kasus serupa boleh saja asalkan tidak menggunakannya setiap hari.
            Salah satu alasan dilarangnya menggunakan make up sebetulnya adalah ditakutkan akan menimbulkan syahwat. Ketika kita berdandan berlebihan dihadapan laki-laki dan laki-laki itu tak bisa menjaga pandangannya. Apa yang akan terjadi? Dan bolehkah kita berdandan sebegitu cantiknya dihadapan laki-laki yang bukan mahram kita? Ketika kita bersolek, coba fikirkan, untuk siapa kita bersolek? Tidakkah kita berdosa jika bersolek agar bisa dilihat dia yang buka mahram kita?
            Dalam hal berdandan menurut saya sah-sah saja selama masih diambang kewajaran. Kita bisa menggunakan bedak sekadarnya agar wajah kita tidak kusam dan bisa memakai lipstik yang bisa membantu bibir kita agar tidak kering dan berwarna netral tidak terlalu merah seperti habis makan bayi (Ini istilah anak-anak remaja yang biasa mengejek temannya yang berlipstik merah menyala dengan kata: Seperti habis makan orok (Baca: Bayi)). Dan tentunya dengan niat bahwa kita merias diri untuk merawat tubuh dan agar terlihat rapih bukan agar bisa dilihat oleh laki-laki yang bukan mahram kita.
            Jadi teman-teman yang masih suka berhias diri demi dilirik dia, coba direnungkan ya. Saya bukan orang yang sudah baik perangainya, namun marilah kita sama-sama melakukan yang terbaik dari hal-hal kecil. Semoga yang sebelumnya rela berjam-jam di depan cermin poles sana sini agar dia yang bukan mahram kita bisa melirik bahkan mencintai kita, segera memperbaiki niatnya dan dandanannya. Bantulah ia para lelaki untuk menjaga pandangannya juga.

            Akhirnya, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dan salah baik dari isi maupun yang lainnya mohon dimaklumkan dan mohon kiranya berkenan untuk memberikan kritik dan saran yang membangun agar dilain kesempatan penulis bisa memperbaiki kesalahannya.

Tidak ada komentar: