Tuan Bantal
Hai
tuan bantal, kita jumpa lagi pagi ini
Mendekatlah,
aku merindukan dekapanmu hingga kerelung hati
Sama
halnya rasa sakit, kan ku peluk, ku cium dan ku dekap kau lebih erat lagi
Dengan
keikhlasan, penerimaan dan pemahaman sejati
Yang
didapatkan oleh pencarianku selama tiga hari
Tuan,
Beberapa
hari lalu aku mengadu pada tuan tisu.
Namun,
kini aku datang tak tuk ceritakan apa yang telah lalu
Aku
hanya ingin ceritakan apa yang ku dapat slama 3 hari mengunci pintu
Dengan
air mata membanjir aku terus menggerutu, menyalahkan ini dan itu
Hingga
akhirnya aku menemu titik sumbu
Ternyata,
jawaban semua rasa sakitku hanyalah dengan membuka hati yang baru.
Tuan,
Kan
ku jelaskan apa yang barusan aku sampaikan
Ku
buka hati yang baru tanpa melupakan semua yang telah kulewatkan
Ku
buka hati yang baru tanpa memikirkan hal buruk yang pernah kudapatkan
Ku
buka hari yang baru tanpa niatan tuk serangkan pembalasan
Ku
buka hati yang baru dengan belajar memahami sisi-sisi kemanusiaan
Ku
buka hati yang baru dengan penuh kedewasaan
Ku
buka hati yang baru dengan keikhlasan tuk memaafkan
Tuan,
Tolong
katakan pada tuan tisu bahwa aku telah temukan jawaban
Ku
niatkan tuk tak lagi ku tonjolkan kebencian
Kini
aku bahagia, dengan mencoba menerapkan makna penerimaan
Aku
tak katakan sudah hilang semua kepediahan
Dusta
kalau luka ini telah kering tanpa bekasan
Namun
setidaknya, aku telah menemukan secercah harapan
Tuk
menghilangkan rasa sakit yang kemarin aku adukan
Perihal
sisa-sisa kepedihan, doakan saja semoga semakin luntur seiring jalan.
Jakarta,
30 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar