Tuan
Tuan,
Tolong tunjukkan,
Bagaimana cara memendam amarah?
Mengapa tak kiranya bisa kulakukan dengan mudah?
Tunggu, apa itu mudah?
Tuan,
Malam ini hujan datang berkunjung,
Menghantarkan desah, gelisah dan amarah
Dia seakan mengungkungku dalam pasrah
Gemuruhnya, membuat hati ini semakin gundah
Tuan,
Tolong ajarkan aku tuk sabar menerima ujian,
Bukan sekadar marah akan semua tuduhan
Bukan sekadar mengeluarkan kata-kata tak
berpendidikan
Bukan sekadar memecah perabotan rumah tak karuan
Tuan,
Jangan diam saja.
Jangan acuhkan aku begitu saja
Bahkan tak ada seorangpun yang mau diacuhkan di
dunia
Tolonglah, jawab pertanyaanku.
Tuan,
Mengapa kau diam saja?
Kau begitu kokoh, dan penuh kesabaran
Mengapa kau hanya menatapku begitu saja?
Tak mau kah kau berbagi padaku sebuah ketentraman?
Tuan,
Maafkan bila aku tak sopan
Namun aku mulai muak dengan semua keadaan
Melihatmu diam, membuatku tambah tak karuan
Rasanya ingin mencaci siapa saja yang ada di
peraduan.
Tuan,
Tak sudikah kiranya kau berbagi sebuah rahasia ke ikhlasan?
Sebab dari mulai amarah, penerimaan hingga
ketentraman yang ku tanya tak kunjung kau beri jawaban
Kali ini, keikhlasanpun rupanya kau enggan pula
menjabarkan?
Kau egois tuan!
Kau begitu egois dengan kelebihanmu akan kekokohan.
Cih!
Kau masih diam saja tuan?
Baiklah, baiklah..
Nampaknya sia-sia saja berbicara, menghamba akan
sebuah jawaban kepadamu tuan,
Aku akan pergi meninggalkanmu tuan.
Tuan?
Kau bahkan
tak memanggilku,
Tak jua memanggilku tuk berbalik padamu,
Cih. Sombongnya dirimu tuan.
Baik, kali ini takkan ku tolehkan mata ini barang
sebentar
Ternyata meminta arahan darimu hanyalah kesia-siaan
Dasar tembok sialan.
Jakarta, 9 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar