Sabtu, 07 Januari 2017

Duo X

Duo X

Siang itu:
Aku merasa Tuhan sedang menghukum seseorang lewat teriknya matahari yang terus mengekang tubuh kami hingga dahaga terus menumor di tenggorokan kami.

Siang itu:
Antrean bus wisata semakin memanjang. Manusia dari berupa-rupa umur mengantre dengan takzim di sebuah bahu jalan yang sudah di sulap menjadi tempat antrean bus wisata dengan pembatas buatan yang terlihat asal-asalan.

Siang itu:
Teriknya matahari menarikku tuk menengok ke kanan dan ke kiri mencari setitik keindahan yang tersisa di kota Jakarta selain kemacetan yang sudah hampir meng-icon. Tak percaya? Sebut kata macet maka ku tebak Jakartalah yang pertama kau bayangkan.

Siang itu:
Orang-orang mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang sibuk berkutat dengan barang dagangannya, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang subuk mengibaskan kerah baju kegerahan, ada yang sibuk mengantre panjang, hingga ada yang sibuk berpacaran.

Siang itu:
Matahari semakin mengatas ubun-ubun hingga panasnya benar-benar menderaskan peluh di dahi dan dibeberapa angkota tubuh lainnya. Hingga rasanya ingin ku teriakkan seluruh manusia agar tobat hingga azab tak benar-benar datang menjemput.

Siang itu:
Aku mulai mengetahui sesuatu. Sesuatu untuk pertama kalinya aku lihat dalam kurun waktu 18 tahun 11hari. Yang mengolok diriku sendiri menyadari kepolosanku dalam melihat kehidupan luar. Rupanya aku benar-benar katak yang terkurung dalam tempat korek api yang sempit.

Siang itu:
Debu jalanan mulai bersekongkol dengan matahari. Aku melihat di depanku ada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan dengan mesra. Awalnya biasa saja, namun setelah salah satu darinya berpaling. Aku terkejut. Ini tidak benar.

Siang itu:
Matahari mengajarkanku. Tanda-tanda keanehan dunia sudah bermunculan. Dan teriknya siang itu menunjukkan salah satu penyimpangan penabur tanda kiamat sudah dekat. Dan itulah mereka contohnya. Dengan pakaian yang sama, perawakan yang sama, jenis kelamin yang sama saling menautkan jari dengan mesra sepanjang jalan hingga antrean bus pariwisata.

Tidak ada komentar: