Tuan Tisu Aku Perlu Kau Tuk Dengarkan Keluhan
Selamat siang tuan tisu.
Mohon maaf menganggu.
Siang begini sepertinya enak tuk
mengadu
Maukah kau mendengarnya? Tak
masalah sambil menghisap cerutu
Tuan,
Mengapa di dunia ini harus ada
perasaan?
Mengapa sulit sekali berdamai
dengan keikhlasan?
Mengapa perasaan ini begitu
menyakitkan?
Mengapa kesal ini terus
berkepanjangan?
Tuan,
Hari ini aku ingin menceritakan
sesuatu padamu lewat tulisan,
Perihal kegagalanku dalam
menggandeng keoptimisan
Perihal kekalahanku melawan rasa
dendam
Perihal ketelakkanku di tendang
rasa tentram
Tuan,
Mengapa begitu sakit kurasakan?
Beginikah setiap insan menghadapi
kekalutan?
Hanya bisa menangis dalam sujudan
Tak bisa berkata-kata selain dengan
derai tak berkesudahan?
Tuan,
Aku kesal sekali pada diri ini tuan
Aku telah egois dalam memilih jalan
kehidupan
Aku merasa menjadi seburuk-buruknya
insan
Aku merasa aku lebih buruk dari si
Tatan.
Tuan,
Tak kiranya ku bisa kendalikan
perasaan
Selama ini telah aku relakan,
ikhlaskan, semua pengorbanan
Tak pernah ku ungkit barang selaman
Selama ini hanya kesalahanku yang
kusesalkan
Tuan,
Kemana hilangnya kepositifan?
Yang selalu aku ucapkan saat
temanku berada dalam permasalahan?
Kemana?
Mengapa tak berlaku kata-kata itu
kini bagiku tuan?
Begitu naif kurasakan.
Tuan,
Hati ini berkecamuk tak kesudahan.
Tolong dari situasi ini aku kau
larikan
Kemanapun asalkan tak kembali ke
jalan kenegatifan melihat kawan
Kembalikan aku ke keadaan semula
yang penuh dengan keluguan
Biar aku dibodohkan,
Tak apa, asalkan aku tak memiliki
rasa benci, itu sudah kecukupan.
Tuan,
Hari ini hatiku penuh dengan
prasangka kehitam-hitaman
Air mataku tak kunjung berhenti
mengalir dibarengi sendu-sedan
Terus terngiang dikepalaku bahwa
sia-sialah semua pengorbanan dan pengabdian
Semua yang aku korbankan hanya
menjadi bahan lelucuan
Tanpa tau begitu perihnya kurasakan
perjuangan.
Tuan,
Dulu kututupi sikap buruknya dengan
keoptimisan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan
melihat tubuhku penuh kesalahan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan
sebuah keikhlasan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan
berfikiran aku harus memiliki sikap kedewasaan.
Tapi itu dulu tuan,
Sebelum pukulan maha dahsyat
menikam telak didadaku
Yang sedari awal kumaklumkan kini
membesar menjadi batu
Tajam, dan dengan tega melukaiku
Tanpa ampun kurasakan itu
Tuan,
Kali ini aku ingin menjadi mereka
kebanyakan,
Aku akan belajar tentang keapatisan
Biarlah dalam kepala mereka aku
kekanakkan
Asalkan hatiku kini bisa menjadi
tenang tanpa kesakitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar