Rabu, 26 Juli 2017

Tuan Tisu Aku Perlu Kau Tuk Dengarkan Keluhan

Tuan Tisu Aku Perlu Kau Tuk Dengarkan Keluhan

Selamat siang tuan tisu.
Mohon maaf menganggu.
Siang begini sepertinya enak tuk mengadu
Maukah kau mendengarnya? Tak masalah sambil menghisap cerutu

Tuan, 
Mengapa di dunia ini harus ada perasaan?
Mengapa sulit sekali berdamai dengan keikhlasan?
Mengapa perasaan ini begitu menyakitkan?
Mengapa kesal ini terus berkepanjangan?

Tuan,
Hari ini aku ingin menceritakan sesuatu padamu lewat tulisan,
Perihal kegagalanku dalam menggandeng keoptimisan
Perihal kekalahanku melawan rasa dendam
Perihal ketelakkanku di tendang rasa tentram

Tuan,
Mengapa begitu sakit kurasakan?
Beginikah setiap insan menghadapi kekalutan?
Hanya bisa menangis dalam sujudan
Tak bisa berkata-kata selain dengan derai tak berkesudahan?

Tuan,
Aku kesal sekali pada diri ini tuan
Aku telah egois dalam memilih jalan kehidupan
Aku merasa menjadi seburuk-buruknya insan
Aku merasa aku lebih buruk dari si Tatan.

Tuan,
Tak kiranya ku bisa kendalikan perasaan
Selama ini telah aku relakan, ikhlaskan, semua pengorbanan
Tak pernah ku ungkit barang selaman
Selama ini hanya kesalahanku yang kusesalkan

Tuan,
Kemana hilangnya kepositifan?
Yang selalu aku ucapkan saat temanku berada dalam permasalahan?
Kemana?
Mengapa tak berlaku kata-kata itu kini bagiku tuan?
Begitu naif kurasakan.

Tuan,
Hati ini berkecamuk tak kesudahan.
Tolong dari situasi ini aku kau larikan
Kemanapun asalkan tak kembali ke jalan kenegatifan melihat kawan
Kembalikan aku ke keadaan semula yang penuh dengan keluguan
Biar aku dibodohkan,
Tak apa, asalkan aku tak memiliki rasa benci, itu sudah kecukupan.

Tuan,
Hari ini hatiku penuh dengan prasangka kehitam-hitaman
Air mataku tak kunjung berhenti mengalir dibarengi sendu-sedan
Terus terngiang dikepalaku bahwa sia-sialah semua pengorbanan dan pengabdian
Semua yang aku korbankan hanya menjadi bahan lelucuan
Tanpa tau begitu perihnya kurasakan perjuangan.

Tuan,
Dulu kututupi sikap buruknya dengan keoptimisan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan melihat tubuhku penuh kesalahan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan sebuah keikhlasan
Dulu kututupi sikap buruknya dengan berfikiran aku harus memiliki sikap kedewasaan.

Tapi itu dulu tuan,
Sebelum pukulan maha dahsyat menikam telak didadaku
Yang sedari awal kumaklumkan kini membesar menjadi batu
Tajam, dan dengan tega melukaiku
Tanpa ampun kurasakan itu

Tuan,
Kali ini aku ingin menjadi mereka kebanyakan,
Aku akan belajar tentang keapatisan
Biarlah dalam kepala mereka aku kekanakkan

Asalkan hatiku kini bisa menjadi tenang tanpa kesakitan.

Tidak ada komentar: