Sabtu, 06 Februari 2016

Puisi Izinkan



IZINKAN

Izinkan mata ini terpejam membayangkanmu
Izinkan hati ini terus menaruh harap diam untukmu
Izinkan telingaku tuk mendengarkan alunan kenangan suaramu
Izinkan jantungku terus berpacu lebih cepat saat seseorang menyebut namamu
Izinkan hidungku tetap mencium aroma kedatangan dan kepergianmu
Izinkan tulang rusukku memimpikan menjadi bagian dari tulang rusukmu
Izinkan bibir ini menerka-nerka bagaimana rasa mengecup punggung tanganmu
Izinkan,
Izinkan,
Tolong izinkan,
Izinkan raga ini terus mendambamu
Izinkan diri ini terus mengenang namamu
Izinkan jiwa ini menantimu menjadi bagian penting dari hidupku
Izinkan tubuh ini menemuimu dalam sebuah doa yang terlantun dalam senyap
Izinkan,
Kumohon izinkanlah aku terus menuliskan perasaanku dalam sebuah puisiku
Izinkan,
Izinkanlah.

Puisi Waktu



Waktu


Waktu terus berpacu.
Tak pernah kiranya melihat kesukaran jiwaku yang sepi.
Dinginnya malam yang mulai menusuk kalbu.
Terus mengulitiku hingga tak kutemukan sisi pesonaku.

Pasangan lampu temaram tak cukup tuk menerangi jalanku
Melewati desiran angin lalu
Ku kan terus menatapnya semu
Hingga jiwa ini menemukan sesuatu titik temu

Kegelisahan jiwaku bukan hanya karenamu
Dinginnya malam juga ikut menengahi
Tanpa bisa ditebak kemanakah dia memilak
Tak yakin ku jika dia hanya menjadi penetral kebahagiaan dan kesengsaraanku

Dengan jalanku yang masih tertatih
Melataku terus menuju jalanMu
Kuatkan hati ini tuk tak lagi ragu
Bahwa, jalanmulah yang memang harus ku tuju
Sampai badan ini membujur kaku
Kutetap milikMu dan akan kembali kepadaMu