Sayang? Yang?
1.
Hari ini
Ada yang berbeda dari caraku menatap elok parasmu
Di sana dadaku berdesir, berdegup, dan ribut menahan gelora yang kian mengacung
Kau mencuri semua akal sehat dalam diriku
Hingga ku limbung dan angin keresahan semakin puas mendikte namamu dalam nafasku
2.
Ku harus apa sayang?
Telah ku tampik semua rasa cinta dengan kasar, namun ia tetap datang dengan sopan sambil membelai pipiku lembut
Penuh perhatian, pertimbangan dan perasaan
Tak pernah ku rasakan sedemikian
Dan ku merasa nyaman hingga hanyut dalam khayalan.
3.
Kau memang tak pernah menyentuhku, apalagi memelukku
Namun senyum itu mampu membuatku hangat, menyusup hatiku yang dingin tercelup lautan salju kutub utara.
4.
Kau tau sayang?
Sekelebet dusta tak pernah ku ucapkan lewat kata dan aksara
Ntahlah, mungkin sebuah hukum alam mewajibkanku tuk jujur dalam beretika mencipta kata
Agar rasa bisa lega, melenggang melewati batu-batu kebohongan yang panas dengan sempurna.
5.
Sayang?
Patutkah ku panggil nama itu untukmu,
Bahkan tuk sekadar meredam kecamuk dalam diri yang kian merangkul mimpi?
Sebab panggilan itu merupakan simbol keputusasaan rasa sayang yang harus hilang ditelan malam
Yang kini mem penuh rasa yang mulai mendahaga kau sahut balik.
6.
Namun ketidakmungkinan datang membawa angin segar
Ditangannya sepucuk surat yang berisi pasal-pasal yang tak membolehkanmu mengatakan sayang pada yang lain apa lagi padaku walau hanya sekadar guyonan,
Sebab disana ada mata wanita yang kau amat kupuja; bila tidak salah.
7.
Sayang kutuk lah aku tuk membencimu!
Buat aku tak sanggup mengucapkan itu padamu sebab rasah, gelisah dan takutku makin meluap dan menjadi hujan kesedihan.
Rintiknya batu-batu pemati harapan
Suaranya penegasan kau milik orang
Petirnya menggelegar membuka mataku agar bisa melihat dunia dengan sadar
Dan banjirnya menjangkit penyakit gigil dan demam rindu yang takkan tersampaikan.
8.
Oh tuanku sayang,
Terlalu banyak kata-kata absurd yang ku ucapkan hari ini
Namun bila saja kau menerawang dari lubuk hatiku yang dalam
Semua kata dalam puisi ini belum penuh; belum bisa mewakilkan perasaanku yang utuh
Getaran rindu dan cinta yang tak tuntas dan tak akan tuntas.
Menghakimiku tuk bungkam.
9.
Semoga tuk terakhir kali ku panggil kau sayang.
Sayang?
Bolehkah?
Maaf kalau ku lancang, bila kau tak mengizinkan, ku kan sebut terus kata itu dalam puisiku yang malang
Sebab darimulah kata-kata itu datang menyebab
Tak mau hilang bahkan semakin subur dalam tatap.
10.
Sayang? Yang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar