Selasa, 03 Januari 2017

Kepada Malam Aku Mengumpat

Kepada Malam Aku Mengumpat

Sebuah pukulan muslihat,
mengena jantung atma
melumat apa saja menghancurkan caya
aku mengenalnya nestapa, namun ntah engkau bagaimana.


sekali lagi.
bentuk tak terlihat
namun cukup untuk menusuk ulu hati:
pada intinya.
tidak lagi pada kulitnya: yang mudah di jahit/

akulah sipenghujat malam.
dengan beban menggunung di punggung
aku menyelam.
mengarungi derasnya waktu melimbung

tak tentu arah.
namun sejarah terlanjur melukis perih.
menawarkan benci dan dengki berdalih.
wahai malam, aku ingin tau kenapa kau pilih kasih?

aku bukan siapapun memang.
namun apapun membuatku nyeri.
begitu gamang.
hingga rasanya aku ingin mati

Tidak ada komentar: