Orang Awam
Inilah kami orang awan dangkal agama
Berteriak kesana kemari mencari kebenaran
Sangsi atas sezarrah pengetahuan
Tak kiranya mampu membedakan kebathilan
Kami laksana daun kering yang jatuh dari peradaban
Terombang-ambing angin kehidupan
Mencari setitik cahaya rengkuhan
Tak ada kegiatan selain doa dan penyesalan
Hingga kami terlarutlah kami dalam kegelisahan
Hari-hari kami penuh dengan kepincangan
Tak bisa normal tanpa keajaiban
Kebodohan kami sangatlah menyedihkan
Semoga tak ada generasi seperti kami dimasa depan.
Haiiiii... Ada yang ngerti maksud dari pusis ini nggak? Nggak ada ya? Yahh :( Nggakpapa deh. Justru bagus. Dengan kalian nggak ngerti itu berarti membuka peluang aku untuk memulai bercerita. Aku cinta semua hal yang berhubungan dengan menulis. Samahalnya seperti menuliskan namamu dalam setiap doaku. *tzcahh..
Nahh jadi gini. Alasan aku membuat puisi ini adalah. Karena jujur sejujur-jujurnya aku haus akan ilmu agama. Aku merasa kalu diri aku itu nggak bisa apa-apa. Ilmu Agama yang aku punya jauh dari kata sedikit bahkan mungkin Sezarrahpun aku tak sampai.
Aku bingung. Sedikit menyesal karena kenapa aku dulu tidak menetap di pesantren. Maksudku. Kenapa aku tidak masuk pesantren saja? Kalau aku lulusan pesantren pasti arah tujuan hidup ini akan jelas. Semua yang aku lakukan terus berdasarkan dasar Agama. Aku sadar Agama adalah pedoman. Dan lihatlah aku. Apa yang bisa ku banggakan pada diri ini?
Alasan aku sangat marah saat adikku keluar dari pesantren juga ini. Aku tidak mau dia bodoh agama seperti halnya aku. Tapi sayangnya dia tidak mau mengerti. Ya Sudah aku tidak memaksa. Lagian dia pasti akan menyesal sama sepertiku.
Ya sudahlah. Itu hidupnya. Semarah apapun aku padanya tak mengubah apa-apa.
Hanya itu sih. Aku merasa,.. Ah sudahlah. :(
Ya Allah. Semoga jodoh Upi nanti laki-laki yang tau agama ya Allah. Agar hambaMu ini bisa di pimpin ke jalan yang benar. hehehehehehe Aamiiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar