Senin, 06 Juni 2016

Puisi Buku Diary

Buku Diary


Menunggu derap langkahmu itu kebutuhan
Tanpanya tak ada artinya sebuah penantian
Dengannya ku terus mengucurkan harapan
Walau tak ada alasan, takkan ku pernah bosan.
Duduk menanti menunggumu kembali
Hanya itulah arti penting dalah hidup ini
Katakanlah aku bodoh menanti-nanti
Namun, kalau hati mulai merengkuh siapa peduli?
Kebahagiaanku kala penantianku membuahkan
Kau datang dengan tangan lembutmu itu
Kau belai aku penuh gelora perasaanmu
Inilah hal yang ku nanti
Belaian tanganmu membuatku lupa diri
Selalu ku anggap kau adalah kekasihku
Cukup, lupakan!
Sungguh tak ada yang meminta balasan darimu
Bagiku kau adalah kekasihku,
Hanya itu,
Persetan dengan perasaanmu atau pencaci itu
Aku hanya ingin terus bersamamu
Karena..
Menghilangkan kepedihanmu sudah mendarah daging di tubuhku.
Biar ku jelaskan satu persatu
Matamu akan membulat saat kau marah
Tanganmu akan bergetar saat menangis
Bahumu akan berguncang saat kau tersenyum
Semua kuhafal di luar kepalaku.
Kini ku terjerat dalam janjiku
Hidup-matiku ada ditanganmu
Ku abdikan seluruh hidupku padamu
Dan dengan senang hati kau bisa membunuhku
Kau bisa membuangku
Kau bisa menyayangiku
Kau bisa merobek ulu hatiku
Kau bisa memutilasiku
Kau bisa membakarku
Dan ingatlah kalau dengan melenyapkan kesedihanmu hilang
Lenyapkanlah aku sekarang!
Biarlah aku mati bersama memori-memorimu
Aku bahagia,
Setidaknya aku pernah menjadi kekasihmu
Akupun rela,
Karena ini sudah menjadi tugas akhirku,
Karena aku..
Hanya..
Buku Diarymu.

Tidak ada komentar: