Senin, 06 Juni 2016

Dipenghujung Rindu


Kini aku hanya bisa menatap sebuah bingkai foto yang pernah ku dapatkan saat kau Ujian dulu. Dulu aku adalah adik kelasmu. Adik kelasmu yang sering menyusahkanmu. Adik kelasmu yang sering kau usili dulu. Adik kelasmu yang diam-diam jatuh cinta padamu.


Mungkin kau bingung. Kenapa setiap selesai ujian dulu fotomu yang terpajang rapih di dinding pintu bersama foto-foto teman sekelasmu hilang begitu saja. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Jujur, semua itu ulahku. Aku yang tak pernah berani menatapmu atau hanya sekedar mengajak berfoto bersama. Karena itulah satu-satunya hal yang menurutku masuk akal dulu hanyalah mancuri setiap foto-fotomu selepas ujian.


Aku mengusap bingkai foto itu. Di sana kegilaanku mencintainya begitu terlihat. Coba bayangkan saja siapa orang yang mau repot-repot mencuri foto kaka kelas yang sedang ujian. Mencuri semua foto kakak kelasmu itu. Padahal kamu tau. Kamu faham. Kalau semua fotonya sama. Dengan background yang sama berwarna putih, tatanan rambut yang sama, wajah yang sama, tatanan dasi yang sama, dan senyum manisnya yang sama.


Aku mulai menutup bingkai itu seraya menutup pintu hatiku. Aku tak mau lagi menanti. Karena apalah arti menanti ketika diri kita sendiri bingung apa yang sedang di nanti. Coba katakan padaku apa yang selama ini ku nanti? Apakah aku menantikan senyumannya? Apakah aku menantikan kejahilannya? Apa aku menantikan kedatangannya? Atau itu semua? Tapi sebenarnya apa yang aku nantikan? Dia tak pernah menjanjikan sesuatu pertemuan padaku, tapi kenapa aku tetap menanti? Inilah mengapa aku bertanya apa yang sedang ku nanti.


Kereta Jakarta-Jogjaku datang. Aku memang sudah memutuskan. Melupakan semuanya. Setidaknya kalau aku tidak bisa benar-benar melupakannya, mungkin aku bisa meninabobokan kenangan itu sampai aku benar-benar menemukan masa depanku yang akan membuat kenangan-kenangan indah tentang kebersamaan, bukan sebuah penantian. Impianku sederhana bukan? Tapi mengapa dalam realita tak sesederhana itu?
Aku mulai mencari tempat dudukku. Tak begitu sulit bagiku untuk menemukannya. Karena percaya atau tidak menemukan kursi kereta jauh lebih mudah dibanding menemukan apa kemauanmu. Klise memang tapi itulah yang aku rasa. Aku buru-buru duduk di bangku itu.


Ini kali pertama aku pergi sendirian. Apalagi ke kota pendidikan itu. Mungkin ini jarak terjauh yang pernah aku tempuh sendirian. Keluargaku melepaskanku pergi demi kemandirianku yang ku janjikan kepada mereka. Walaupun rasa takut memang ada di dalam sana tapi tetap saja apa gunanya rasa takut, ketika kau bisa lebih menemukan sesuatu yang baru ketika kau menyingkirkan rasa itu.


Kata orang perjalananku akan memakan waktu sekitar 7jam. Sekarang baru beberapa menit dan rasanya mulai bosan.


Ternyata bepergian sendirian itu memang membosankan. Tak ada teman ngobrol dan tak ada yang bisa mengurangi kebosananmu. Aku buru-buru mengambil headset lalu memasangnya, dan mengalunlah lagu kesukaanku sebuah lagu dari Sheila On 7. Kita. Empat kata penuh pengharapan, penantian dan perpisahan.


Layar ponselku masih menggunakan wallpaper fotonya yang ku potret secara diam-diam saat dia sedang bermain bola volly disana. Unik. Olahraga kesukaannya adalah bola volly lain dari kebanyakan laki-laku seusianya yang lebih menyukai permainan sepak bola.


Dan hap! Rasa itu kembali lagi.


Terus seperti itu. Aku terus dirundung sebuah rasa rindu yang mungkin hanya milikku. Tak bisa ku pastikan dan aangat sulit untuk aku bayangkan. Karena sebuah bayangan tidak pernah sama dengan kenyataan. Bayangan hanyalah sebuah ekspektasi kita tentang apa yang kita akan bayangkan.


Perjalanan terus berlanjut. Hingga tibalah aku di stasiun. JOGJA. Rasa penat tak bisa ku tahan. Aku buru-buru keluar. Ini pertama kalinya aku ke Jogja. Jadi Papaku memutuskan mengirim anak temannya untuk menjemputku. Aku tidak tau rupanya seperti apa. Yang jelas pasti dia orang baik. Dia yang akan mengantarku ke hotel yang sudah sengaja di pesan dari Jakarta oleh Papa.


Aku duduk menunggu.


"Kau sedang menunggu apa anak muda?" Tanya seorang Nenek yang aku taksir berusia 60tahun itu. Beliau duduk di sampingku.


Aku mengerutkan keningku. Apa maksud pertanyaan nenek itu? Kenapa yang ditanyakan apa? Bukan siapa?


"Oh. Maafkan orang tua ini karena sudah membuatku bingung nak. Kekekkek" beliau terkekeh, lalu melanjutkan lagi. "Maksudku, kau sedang menanti siapa?" Tanyanya.


Aku mengangguk. Rupanya aku terlalu banyak membaca novel sehingga aku berfikir nenek-nenek yang berasa disampingku ini adaah nenek-nenek ajaib yang penuh dengan kisah seperti di dalam novel yang pernah ku baca. Tapi ternyata nenek hanya salah memilih kata dalam bertanya.


"Aku.." aku sendiri bingung sendiri mau menjawab apa. Karena aku tidak tau siapa nama seseorang yang akan menjemputku.


"Apa kau sedang menanti kekasihmu datang untuk menjemputmu?" Tanya Nenek dengan gaya sedikit menggoda.
Aku tersipu malu. Ntah mengapa. Dan buru-buru ku jelaskan agar nenek tidak salah faham.


"Sebenarnya aku sedang menanti teman ayahku nek, bukan menanti kekasihku. Sungguh aku tidak memiliki kekasih." jawabku dengan jujur.


Menjengar jawabanku nenek terkekeh lagi.

"Kau sudah tau rupa anak teman Papamu itu?" Tanya nenek lagi. Menggeleng. Nenek tersenyum. "Bagaimana kalau anak papamu itu adalah seseorang yang kau nanti sejak lama?" Tanya nenek lagi.


Kali ini giliran aku yang terkekeh. "Tidak ada keajaiban seperti itu nek." Kataku.


"Dari kalimatmu kau terdengar masih sangat menantinya nak." Kata nenek. Aku terdiam.


"Tidak nenek. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menantinya. Lagipula dia tidak pernah menjanjikan pertemuan, aku saja yang bodoh menantinya." Kataku sambil tersenyum miris.


"Aku tebak kau tak percaya keajaiban karena keajaiban yang kau tunggu tak pernah datang menghampirimu?" Tanya nenek dengan hati-hati.


"Ntahlah nek." Kataku. Aku benar-benar tak tau harus menjawab apa.


"Keajaiban itu ada nak. Ingatlah semuanya sudah ada yang mengaturnya. Dan keajaiban milikmu itu aku yakin, kau akan segera mendapatkannya." Kata nenek itu lagi.


"Semoga saja nek." Kataku.


Tiba-tiba seorang remaja cantik menghampiri kami. Lebih tepatnya dia menghampiri nenek.


"Nenek ayo kita pulang." Kata remaja itu.


"Baiklah. Baiklah sayang. Mari kita pulang." Nenek berdiri lalu menoleh kearahku.


"Maaf nak, aku harus segera pergi. Sebelum aku pergi, izinkanlah wanita tua ini memberikan pesan kepadamu.


Apapun yang akan terjadi selepas kau pergi dari sini, itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan bisa di jangkau oleh otak manusia. Percayalah akan ada balasan untuk para pemilik hati yang sabar. Sampai jumpa lagi!" Pesannya. Sambil melambaikan tangan.


Aku mengangguk, "Terimakasih nek. Sampai jumpa lagi." Kataku sambil membalas lambaian tangan nenek.


Aku menghela nafas. Kini aku sendiri lagi. Keajaiban? Rasanya penantianku sudah melunturkanku akan sebuah keajaiban.

Aku hanya bisa mengangkat bahu. Lalu memasang headaet di telinga kananku.


"Sorry, apa kau yang bernama Kirana?" Suara seseorang menghentikan aktivitasku.
Aku buru-buru menoleh.


DEG!


"Kiran?"


"Ka Gara?"


*TAMAT*

Tidak ada komentar: