aku punya cerpen tak-jel lagi nih. hehehehe
Batu Karang!
“elo kenapa si? Giliran gue udah mau menjauh dari elo,
kenapa elo malah mendekat? Elo ngerti gak si? Sakit hati gue setiap dideket
elo, denger nama elo disebut aja udah bikin gue sakit. Gue juga bingung, dengan
begonya, gue masih punya perasaan yang sama bahkan lebih besar lagi ke elo. Apa
sih bagusnya elo? Kenapa dimata gue elo selalu perfect? Kenapa cuman elo?
Banyak kok temen-temen gue yang jauh lebih ganteng dari elo, tapi kenapa gue
berdebarnya cuman sama elo? Bego gak si gue masih mikirin elo?” Hamparan laut
biru itu semakin menggodaku untuk terus mengeluarkan unek-unek yang ada di
benakku.
Kenapa harus Dia lagi? Mataku menatap lurus ke arah sebuah
batu karang yang berada jauh di sana. Sekarang di indra penglihatanku batu
karang itu berubah menjadi seseorang yang selalu mengusik hidupku.
Senyum itu terukhir disana. Senyumannya yang selalu
membuatku terpana tanpa terkecuali. Senyumannya yang mampu melulukan hatiku
yang sekeras hati. Senyuman itu yang membuatku terbang kelangit ketujuh, dan
senyuman itu juga yang menjatuhkanku ke dalam jurang kesakitan.
“Kenapa sih? Mata gue kenapa sih? Kenapa cuman elo yang gue
liat? Kenapa? Kenapa bukan Riyan cinta pertama gue yang lebih ganteng dari pada
elo? Kenapa elo selalu bikin bayangan dimanapun mata gue mandang? Menyedihkan gak si gue? Karang jelek itu juga
berubah jadi elo. Sekarang apa lagi? Apa lagi yang berubah jadi elo??? Bayangan
di air ini? apa sepatu ini yang akan berubah jadi elo selanjutnya??” kataku,
kini di depanku karang itu masih tersenyum padaku. Mengejekku karena hanya mau
mengumpat dibelakang, dan tidak berani mengucapkan satu katapun saat berada di
dekatnya.
Aku memandang sepatuku dengan sebal. Kini dikilatan
sepatukupun senyumanmu ada di sana. Apa yang salah dariku? Kenapa susah sekali
lepas dari bayanganmu? Keegoisan kah ini?
“Elo ngapain jadi muka dia jugaaa? Elo gak ngerti apa.
Gimana sakitnya gue pas lo jalan berdua naik motor sama dia didepan gue? Gue
cuman diem. Dengerin curhatan temen gue dijalan, dan nangis dalam diam, dan
nyatanya temen gue juga gak peduli sama gue, dia malah gak peduli sama gue,
padahal dibalik tawa gue yang ngetawain cerita dia, air mata gue turun. Disitu
awal rasa sakit yang bener-bener nusuk gue. Kenapa dulu pas gue liat cinta
pertama gue pelukan sama sahabat gue rasanya gak sesakit ini? kenapa? Kenapa
gak ada yang bisa jelasin ke gue coba? “ kataku. Kini mataku menerawang jauh ke
langit-langit. Bayangannya ada di sana. Lagi-lagi bayangan itu tersenyum
padaku. Seakan aku adalah lelucon yang patut untuk diberikan senyum.
Aku menengok kekiri, ada sepasang kekasih yang sedang
bermesraan disana. Dengan seorang wanita yang terus tersenyum menatap sang
kekasih, seakan kekasih itu adalah orang yang memberikannya kebahagiaan, itu
terpancar jelas dimatanya. Lalu lagi.lagi wajah mereka berubah. Kali ini
berubah menjadi kamu dan si kakak kelas cantik itu. Aku hanya bisa tersenyum
getir.
Aku menengok kearah kiri.
“gue muak! Elo udah lulus kan? hampir setahun, kita gak
ketemu kenapa muka lo masih terpatri di otak gueee? Apa salah gue sampe-sampe
gue cinta banget sama elo? Orang bilang kalo suka yang melebihi 4bulan itu
namanya cinta. Heeeeyy look at me gue
berapa tahun coba? Dan muka lo gak pernah bisa gue lupain walau sedetik.
Padahal gue orangnya lupaan. Gue pelupa dan bodohnya mungkin yang gue gak lupa
cuman, yang diatas, orang tua gue, makan, minum, dann errr,, e-l-o! Seneng kan
lo gue begitu cinta sama elo? Enggak lah ya? Elokan emang dasarnya gak pernah
peka sama perasaan gue. Elo permainin hati gue gitu aja. Lo jadiin candaan perasaan
gue didepan temen-temen elo dan bohohnya lagi gue malah bahagia lo jailin gitu”
kataku sambil menghembuskan nafas dengan kasar. Aku menengok kearah kanan. Tapi
aku buru-buru melepaskan kacamataku lalu menutup wajahku dengan tangan. Aku
terlalu takut jika apa yang aku lihat menjadi bayangannya lagi.
“mulai sekarang gue gak mau ngebiarin mata gue buat liat
bayang-bayangan elo lagi. Gue gak mau
mata gue ikutan terpaku sama elo. Karena semakin gue sering liat elo, semakin
lo indah dimata gue. Gue gak mau liat lo lagi, gue gak mau liat muka lo lagi
dan gue gak mau liat muka lo lagi. Dan gue juga gak mau pake kaca mata ini
lagi. Gue gak mau muka lo semakin jelas di mata gue.” Kataku.
Aku mendekati air laut. Mengambil air itu dan mengusapnya
dengan kasar ke wajahku dengan gerakan refleks. Kebodohan lagi yang aku
lakukan, membiarkan air yang penuh pasir itu mendarat di wajahku.
Aku berjalan lagi ke laut yang semakin dalam, lalu aku
mengusapkan air laut yang bersih ke wajahku untuk menghilangkan sisa-sisa pasir
yang ada di wajahku. Lagi-lagi kebodohan lagi yang aku lakukan, kini pakaianku
sudah basah hingga kepinggangku.
“Aaaaaahhhh! Bodooohh! Bodoooh! Bodooohhh!!! Tuh kan elo
liat kan otak gue jadi tambah geser setiap mikirin elo. Kenapa gue malah cuci
muka disitu? Kenapa gue malah kesini? Basaaahh! Kapan kebodohan gue ini ilang?
Kebodohan yang selalu gue lakukan setiap nginget elo, denger nama elo, denger
suara elo, apalagi saat gue ngeliat elo. Hampir 3 tahun gue nungguin elo,
nungguin candaan-candaan elo itu ngena di hati lo, biar hati elo sedikit demi
sedikit keketuk dan mulai biarin gue masuk. Yang gue tau itu hanyalah
ketidakmungkinan yang selalu gue semogakan yang artinya,,,” aku menghembuskan
nafas dengan kasar.
Aku ingin berlari dari sini. Aku ingin kekamar,
mencoret-coret tembok kamarku dengan tulisan abstrakku dan mencoret namamu yang
ada di dinding kamarku. Menghapus semua fotomu di handphone, laptop, bahkan
foto ujian kamu masih aku simpen di salam buku harianku. Dan hari ini aku
benar-benar ingin membakar, membuang dan menghilangkan semuanya tentang kamu.
Aku kembali menepi. Aku mencoba meluruskan pandanganku agar
aku tidak melihat batu karang dibelakangku yang masih bertopeng kamu. Yeah kamu
yang selalu ada di dalam hatiku.
Satu langkah aku merasakan godaan didalam hatiku agar
menengok kebelakang.
Dua langkah langkahku semakin berat.
Tiga langkah aku menoleh kebelakang.
Air mataku menetes. Dengan bodohnya, terus mengalir saat aku
ingin bangkit dan melupakan semuanya.
“apa yang harus gue lakuin? Saat gue bangun dan mulai
ngeluain elo, dan menghindari semuanya yang menyangkut tentang elo, keadaan
malah memaksa gue buat deket sama elo. Kenapa si setiap gue berusaha buat
ngelupain elo, malah semuanya mojokin gue buat deket lagi sama dia. Gue bahkan
sekarang tau bersinggungan dengan apapun yang menyangkut elo. Gue terlalu takut
buat ngerasain sakit kayak waktu elo sama dia ada didepan kelas gue, saat elo
berdua naik motor dengan satu mantel didepan gue tanpa ngeliat gue, liat kalian
berduaan disamping masjid pas hujan dan gue gak berani nyamperin temen gue yang
duduknya dideket elo karena takut gue nangis disana, dan saat untuk pertama
kalinya gue nangis di sekolah didepan kakak kelas gue yang udah gue anggep
kakak gue sendiri tapi tengilnya minta ampun, sampe dia yang tengil begitunya
nepuk punggung gue dan bilang ‘udah jangan nangis, gak guna lo nangisin orang
kayak dia, selow aja kali’ dan di situ gue tambah malu sama dia, karena air
mata gue keburu keluar dan gue pura-pura tidur di pangkuan kaka kelas gue yang
cewek sambil nungguin hujan reda, dann,,” aku tidak sanggup lagi melanjutkan
apa yang ingin aku katakan. Aku mengarahkan mataku keatas menahan air amtaku
agar tidak jatuh.
“gue sadar rasa sakit ini dateng karena gue masih ngarep pin
sesuatu yang kemungkinannya bahkan cuman 0,001%, apa angka segitu bisa disebut
peluang? Enggak kan? ternyata gue cuman mau denger kepastian dari elo. Elo tau
perasaan gue ke elo, dan rasanya ga adil kalo gue gak tau gimana perasaan elo
ke gue, gue terima apapun yang bakal elo pilih. Ck, tapi gue udah tau
jawabannya, gue udah nunggu 3th lamanya dan gak ada kepastian dari elo
sedikitpun. Gue nyerah” kataku tertunduk.
Pantai yang sedari tadi sepi, mulai ramai, karena kebanyakan
dari semuanya datang hanya ingin melihat pemandangan matahari tenggelam saja.
Kali ini aku tidak tertarik lagi dengan apa yang dilakukan orang-orang disana.
Rasanya menyakitkan, pantai ini adalah pelampiasanku saat perasaanku kacau. Dan
batu karang itu, dia tidak pernah berubah menjadi batu karang yang
sesungguhnya, dimataku batu karang itu adalah kamu yang semakin jauh dariku dan
aku tidak bisa mencapai tempat itu dengan tangan kosong.
“selamat tinggal” kataku, mulai berbaik dan meangkah
menjauhi pantai.
“Jadi segini aja perjuangan lo?” itu suara seseorang, suara
yang sangat aku hafal. Suara Dia! Tapi aku lebih memiih tak memperduikannya
karena aku tau ini hanya imajinasiku saja. Aku semakin mempercepat langkahku,
aku tidak mau menangis lagi. Mengharapkan sesuatu yang gak pasti itu begitu
menyakitkan dan dengan bodohnya aku tetap menunggunya sejauh ini.
Aku merasakan tanganku dicekal seseorang, ntah mengapa
jantung ini mulai berdegup kencang. Dalam hati aku berharap diaah yang memegang
tanganku ini. aku ingin menengok kebelakang tapi begitu takut jika kenyataannya
berbeda. Aku menghempaskan tanganku dengan kasar. Au menutup wajahku frustasi,
kini air mataku menderas lagi.
Dan lagi seseorang menyingkirkan tanganku, mau tak mau aku
menunduk malu jika seseorang yang asing dihadapanku melihatku menangis. Dia
mendongakkanku, dan mataku seakan membeku. Dia! Dia berada dihadapanku. Dia
bukan lagi ilusi seperti sebeumnya. Dia begitu nyata! Aku mencubit telapak
tangannya yang masih menggenggam tanganku.
“Aww” ringisnya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
Matanya berbinar, aku semakin malu menatapnya. Getaran ini masih ada. Kaki ini
muai emas seperti biasanya saat kita berdekatan. Jantung ini sudah tak perlu
ditanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar