Semisal Hujan
Ketika rindu menyibak tirai pemisah
Menjabat temu dengan susah payah
Melata mencoba mengikuti arah
Hingga gundah hanya cerita pongah
Memekik kala tubuh ini tersentuh
Dijabat rasanya mengangkasa
Ingin memeluk namun malulah
Hingga aku hanya bisa menunggu dirimu merasa
Senyumanmu masih sangat sama
Dengan bibir tipis penambah gagah
Kini adikku malu-malu melangkah
Aku ingin memeluknya namun tak kuasa
Aku hanya bisa memandanginya menjabat tangan ini
Rindu.
Namun kilatan kekecewaan tiba-tiba muncul
Kembali lagi tanpa diundang
Kini ku kembalu berperang
Rasanya sakit ketika justru sikapnya semakin berubah
Nelangsa aku melihatnya sudah
Fikirannya terkontaminasi sampah
Dari lingkungannya.
Dari dalam dirinya.
Aku ingin menangis
Menampikkan rasa kesal menjadi sendu
Namun hati ini tak sesempurna milikmu
Jadi, aku hanya bisa tersenyum miris melihat tingkahnya
Atmosfer malu mengungkung diriku
Melihatnya aku sedih
Walau rinduku terbayar sudah
Tapi,
Melihat tingkahnya justru membuatku pasrah.
Kegagalan selalu berkecamuk dalam jiwa ini
Menyalahkan diri ini
Semisal hujan
Air mataku turun menderas
Terus saling bersaut-sautan
Namun dalam hati,
Tak sampai hatiku melihatmu.
Semoga,
Mataku salah melihat tingkah ajaibmu
Semoga,
Tanpa kusadari terpupuk jiwa kedewasaanmu,
Semoga,
Kau sadar apa cita-citaku
Semoga,
Kau memaafkanku yang merasa gagal menjadi kakakmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar