Kalut
Assalamu’alaikum,
Kata
orang hidup ini adalah pilihan. Bahkan dalam buku Beyond The Inspiration sang penulis menyebutkan kalau memang hidup
ini pilihan, apa yang kita alami saat ini adalah sebuah hasil dari pilihan kita
kemarin dan apa yang kita akan pilih bahkan telah kita pilih merupakan pilihan
kita atas hasil di masa depan.

Hari
ini aku insaf akan kepapaanku yang belum bahkan mungkin tidak pernah
benar-benar bisa memilih jalan hidupku; apa yang aku mau, apa yang sebetulnya
aku ingin lakukan, dan mana yang harus aku pilih. Aku merasa tak berguna
belakangan ini. Ternyata memiliki IP sedikit lebih baik dari teman-temanku
tidak menjamin aku pandai menentukan pilihan. Tak ada yang benar-benar ku pilih
dengan baik.
Aku
rindu masa-masa semua teman-temanku peduli padaku. Bukan berarti sekarang
mereka mengacuhkanku namun semakin hari perasaanku kepada mereka dan mungkin
sebaliknya semakin renggang. Aku merasa tak ada yang bisa benar-benar ku
harapkan dari hubungan yang kian luntur. Dulu dibeberapa waktu dan dengan teman
yang berbeda. Selalu ada diantara mereka yang datang menghampiriku dan bertanya
apa yang terjadi padaku. Dengan tulus (Setidaknya itu yang terlihat di mataku).
Lagi-lagi
aku merasa terpuruk. Tadinya aku fikir bisa menghadapi kenyataan bahwa aku bisa
sedikit mandiri dan bisa memilih jalan hidupku sendiri tanpa meminta nasihat
orang lain. Namun pada kenyataannya, aku di kejutkan dengan kehausan akan teman
yang selalu ada saat aku membutuhkan bahu untuk sekadar bersandar tanpa
muluk-muluk menginginkan sebuah tepukan sebagai respons. Bahkan dengan tetap
berada di sisiku tanpa melakukan apapun, hanya mendengarkan apa yang aku
ceritakan, aku bahagia, aku akan berfikir aku orang beruntung.
Disaat
seperti ini, ingatan akan banyaknya peruntunganku di waktu-waktu yang telah
lewat tidak banyak membantu. Aku merasa menjadi seseorang yang bahkan tak punya
prinsip dan tidak pernah beruntung. Ku jadikan satu ketidakberuntunganku tuk ku
jadikan dalih atas keberuntungan-keberuntungan yang telah lalu. Aku lelah. Aku ingin
melepaskan semuanya. Bahkan kadang ku berfikir tuk benar-benar melepaskan.
Disaat
seperti ini pula, aku sadar bahwa aku tetep polos bahkan mungkin bodoh. Alih-alih
memikirkan sahabat-sahabatku tuk datang kepadaku, menghiburku. Aku malah
memikirkan salah satu temanku yang jelas-jelas mungkin aku tak pernah berada di
daftar atas orang-orang penting terdekatnya. Kita hanya pernah tak sengaja
terjebak dalam suatu dimensi kebersamaan, dimana kita dituntut untuk
terus-terus bersama dan bodohnya aku terlena begitu saja. Mungkin bisa ku
katakan sebujurnya padanya, dia akan mengolokku sebab rasanya aku seperti
menjilat ludahku sendiri jika benar-benar mengatakannya.
Diam-diam
aku berharap dia masih peduli kepadaku. Dulu saat semua orang seakan ditelan
bumi, ia datang dengan caranya sendiri. Hari ini, aku mengharapkan hal serupa. Rasanya
bila bungkam bukanlah emas aku ingin menyatakan bahwa aku kalah. Aku akan
utarakan bahwa aku hampir gila beberapa kali menunggunya mengajakku
berinteraksi. Aku ingin bilang kepadanya, kalau aku muak dengan semua yang
berhubungan dengannya, bayangkan saja dirinya yang hanya menjadikanku salah
satu bukan satu-satunya selalu mengganggu fikiranku. Ia selalu melintas di
benakku saat aku menggunakan baju putih, kerudung putih, membaca novel Tere
Liye, berkutat dengan buku sastra, saat berpuisi, saat malam tiba, saat ada
umpatan-umpatan kata kasar, saat menangis dan masih banyak lagi.
Aku
tidak menyukainya. Sungguh. Hanya aku sedikit tidak rela ketika ia mendapatkan
perhatian lebih dari teman-temannya. Mungkin aku iri. Aku selalu mencoba
memikirkan bahwa aku hanya iri kepadanya tanpa maksud yang lain. Karena iri
merupakan hal yang tidak baik maka aku harus memperbaiki diri tuk tidak
melakukannya lagi. Sungguh. Benar-benar iri yang aneh yang pernah ku temui.
Perihal
pilihan yang tak kunjung bisa ku pilih. Aku berharap ada seseorang yang datang
tuk menuntunku. Aku ingin bercerita kepada sahabatku namun rasanya itu hanya
sebuah cerita yang tak ada apa-apanya di pendengaran mereka, bahkan mungkin
diawal cerita mereka akan bosan mendengar ceritaku yang terus-terusan seperti
ini. Semoga hanya aku yang merasa demikian bukan kalian. Tapi tetap saja, aku
tidak boleh membebankan orang-orang yang memang tak mau mendengarkan cerita
kita untuk mendengarkan sebuah cerita yang begitu penting dalah hidup kita namun
tidak ada apa-apanya di kehidupan mereka. Rasanya akupun ingin tak peduli namun
untungnya seseorang perbah mengajariku tuk menjadi pendengar yang baik.
Hanya
kertas yang merupan teman setia. Sudah sering ku katakan bukan ketika aku
menulis hal-hal semacam ini merupakan salah satu cara aku untuk menemukan jawaban
akan sebuah masalah? Sebab terkadang dengan sendirinya jawaban itu keluar
begitu saja ketika aku terus menerus menuangkan apa yang ada di benakku. Aku tak
tahan tidak menulis. Sebab setelah menulis ada suatu kepuasan sendiri bagiku,
semacam kelegaan untuk mengungkapkan apa yang ingin ku ungkapkan detail yang
tidak tau ku harus ungkapkan kepada siapa.
Kadang
disaat seperti ini aku merasa aku hanya Hamba-Nya yang menyebalkan. Merasa tak
ada tempat tumpuan lain ketika ada masalah. Padahal pada sebuah kultum di kelas
aku pernah mengatakan bahwa masalah datangnya dari Allah SWT. Dan hendaknya
kita memohon ampunan kepadanya dan meminta petujuk akan masalah kita. Bahkan dalam
surat Ar- Ra’du kalau tidak salah ayat 29 Allah telah memberikan kita salah
satu cara untuk menentramkan hati kita, yaitu dengan mengingat Allah, karena hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Rupanya mengajarkan hal-hal
seperti itu lebih mudah jika sebatas hanya dimulut sulit betul di praktikkan
dalam kehidupan nyata.
Ya Allah, Ya Illahi Rabbi, Aku mohon ampun, jika
berkenan mohon kiranya berikan aku petunjuk akan masalah yang sedang kuhadapi.
Aamiiin.
Yap
sepertinya ku sudah menemukan jawaban atau kekalutanku. Terima kasih. Semoga
ketika hal serupa suatu ketiak menimpamu, kau lebih beruntung karena bisa
dengan mudah memecahkannya. Aamiiin.
Wassalamu’alaikum
wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar