Pintu Hati yang Kau Ketuk
Ku pinta kau memelukku
Namun kau menjauhiku
Ku harap kau menyapaku
Namun kau menghindariku
Ku harap senyuman itu darimu
Namun kau mengacuhkan aku
Saat raga ini butuh suaramu
Hanya deru anginlah yang ku dapat
Merunduukan kepalamu saat kau melihatku
Berjalan menjauhiku saat kami tak sengaja bertemu
Membuang mukamu saat tak sengaja ku melirikmu
Dalam hati aku merutuki apa salahku padamu
Senyumanmu itu, mengapa hanya ditujukan untuk mereka?
Kenapa tidak untukku juga?
Kali ini
Mendengar suaramu hanyalah keniscayaan yang ntah kapan aku
dapatkan
Saat derap langkahku terhenti dihadapanmu
Kau hanya menghindar
Tanpa menoleh
Bahkan tak ragu untuk berputar arah
Saat aku hanya bisa mendoakanmu
Merelakan semua perilaku yang ku anggap aneh
Seseorang membisikiku
“Dia hanya tak mau fitnah menyertai kalian”
Aku hanya tergugu
Semudah itu dan aku tidak bisa mengertinya
Dari jendela kamarku
Aku mengamatinya
Dengan Sarung hijau kesayangannya, dipadukan dengan koko
warna putih dan peci putihnya.
Dia tampak berbeda
Lebih istimewa adalah kata yang tepat untuk
mendeskripsikannya
Saat aku mulai menghindarinya
Takdir malah mempermainkan hati kami
Kami?
Entahlah.
Itu hanya harapanku
Ntah permainan macam apa ini, yang jelas kami bertemu
Kau berdiri 2 meter dihadapanku
Kau dan aku berdiri dengan gugup
Akulah yang menyapamu duluan
Kau masih diposisimu dan aku masih diposisiku
Tak ada yang mendekat, namun aku merasa kamu yang menjauh
Kau berdiri dengan sopannya
Tak ada niat untuk berjabat tangan denganku
Kau hanya menyatukan kedua tanagn didada
Dalam hati aku tersenyum
Matamu hanya memandangku sekilas
Tapi bibirmu itu, mengucapkan banyak terimakasih kepadaku
Atas takdir ajaib yang membuatnya berterimakasih padaku
Aku mengamati raut wajahnya yang tak juga mau menatapku
Kau arahkan matamu itu pada adikmu yang ada disampingku
Untuk beberapa saat aku tertegun
Kau,
Mengapa begitu berbeda dimataku?
Kesopananmu itu
Sadar ataupun tidak
Kini pintu hatikulah yang kau ketuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar